Media Center, Rabu ( 25/01 ) Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung selama waktu 5 tahun (1825-1830) memiliki kaitan erat dengan sejarah Kabupaten Sumenep. Kisah yang hingga kini menjadi rahasia umum di balik lembaran sejarah dan riwayat-riwayat kuna yang melegenda.
“Sejarah umum memiliki banyak ketidaksamaan dengan sejarah lokal Sumenep. Khususnya mengenai Perang Jawa dan sosok pribadi Pangeran Diponegoro atau yang biasa disebut Dipanaghara,” kata salah satu pemerhati sejarah di Kabupaten Sumenep, R. P. M. Mangkuadiningrat, pada Media Center.
Menurut Mangku, dalam riwayat kuna, Pangeran Diponegoro tidak pernah ditangkap Belanda. Sang Pangeran justru disebut menyerah pada Sultan Sumenep, Pakunataningrat. Sementara dalam sejarah nasional, Diponegoro berhasil ditangkap melalui sebuah muslihat culas.
“Dalam sebuah ucapan yang terkenal Diponegoro, sengkok mak-baramma a kala pangkat dak ka Soltan Sumenep. Yang maknanya; bagaimanapun saya, tetap kalah pangkat terhadap Sultan Sumenep. Pangkat yang dimaksud maknanya luas. Namun yang jelas ialah kemuliaan di sisi Allah SWT,” kata Mangku.
Saat menyerah pada Sultan, Diponegoro menyerahkan kedua tangannya untuk dikalungkan selendang tanpa diikat. Beliau selanjutnya dibawa Sultan Sumenep ke Madura Timur, dan ditempatkan secara khusus agar tidak diketahui Belanda.
Apa yang dikatakan Mangku senada dengan yang diceritakan H. R. B. Nurul Hamzah, putra Budayawan legendaries, R. P. Abd. Sukur Notoasmoro. Menurut Nurul, seperti yang diceritakan ayahnya, Pangeran Diponegoro memang menyerah pada Sultan Sumenep. Ketika dibawa ke Sumenep, pihak Keraton selalu mengelabuhi Belanda tentang tempat tinggal Diponegoro.
“Menurut Kai (ayah; red), kisah itu selalu ditanamkan guru-guru pribumi di Sumenep. Namun tentu dengan resiko besar, karena saat itu Belanda masih menjajah,” kata Nurul.
Dalam kisah itu juga disebut awal pertemuan Sultan dengan pangeran Diponegoro. Bahwa suatu ketika Belanda meminta bantuan pasukan Sumenep untuk menangkap Diponegoro. Alasan Belanda, Diponegoro, yang merupakan putra selir Sultan Jogjakarta bermaksud merebut hak waris anak yatim, yang tak lain ialah keponakannya yang dicalonkan sebagai sultan.
Setelah sempat ikut dalam perang Jawa, Sultan lantas menemui langsung Pangeran Diponegoro di pertapaannya, di sebuah Goa. Ketika ditanya langsung Diponegoro mengutarakan alasan meletusnya perang Jawa tak lain untuk membela rakyat atas kesewenang-wenangan, kelaliman, dan perilaku kejam Belanda.
“Baru kemudian Sultan sadar bahwa Pangeran Diponegoro tak seperti yang dituduhkan Belanda. Lantas sultan membawa Pangeran Diponegoro ke Sumenep. Dalam riwayat sempat adu ilmu, dan Sultan menang,” kata Nurul.
Setelah lama di Sumenep, dimana desakan Belanda untuk membuang Diponegoro ke Makassar semakin kuat, akhirnya Sultan mengutus abdinya untuk menyamar menjadi Diponegoro. Diponegoro palsu itu lantas diserahkan pada kompeni dan dibawa ke Makassar. Sementara Diponegoro asli menetap di Sumenep dan meninggal di sini. Jenazahnya juga dimakamkan di antara makam raja-raja di Asta Tinggi.
“Belakangan, tahun 1980-an ditemukan nisan kayu bertuliskan Diponegoro, huruf arab dan carakan. Nisan itu pada sebuah makam di belakang pagar Asta Tinggi. Ditengara itu makam Diponegoro yang asli. Namun banyak ahli sejarah menolak hal itu dengan alasan sudah tertulis di sejarah nasional. Pihak kepurbakalaan juga tidak memberikan keputusan tegas. Tapi, ya kata Kai, Wa Allahu a’lam. Hal itu cukup menjadi keyakinan warga Sumenep, karena sumbernya dari leluhur di sini,” tutup Nurul. ( M. Farhan, Fer )