News Room, Senin ( 19/07 ) Dampak dari isu penculikan anak melalui SMS ternyata sudah menyebar hingga kepelosok Desa, dan menyebabkan para orang gelisah. Bahkan, beberapa diantaranya tidak mengijinkan anaknya untuk keluar rumah meskipun kepentingan untuk sekolah dan mengaji. Salah seorang pengasuh Pondok Pesatren di Desa Moncek Tengah, KH. Kurdi, HA, Seniain tadi pagi (19/07), mengungkapkan, pihaknya mendapati beberapa siswanya tidak masuk sekolah dengan alasan takut kejadian penculikan. Sedikitnya sekitar 25 persen anak asuhnya tidak masuk ke Pondok dan Sekolah karena alasan tersebut. Pria yang juga anggota DPRD Sumenep ini sangat menyayangkan isu penculikan anak tersebut. Isu ini sudah meresahkan masyarakat dan berdampak pada aktifitas anak yang seharusnya menimba ilmu malah dibuat ketakutan. “Bahkan orang tuanyapun ikut ketakutan, sehingga melarang anaknya untuk keluar rumah. Jadi ini sudah betul-betul kejadian yang meresahkan, jadi tolong ditindak lanjuti oleh pihak-pihak terkait," ujar Kurdi. Bahkan, ada sebagian orang tua santri yang bertanya langsung kepadanya terkait isu penculikan tersebut. Sehingga mereka memilih untuk tidak mengantarkan anaknya ke Pondok. Parahya lagi, tegas pengasuh Ponpes An-Nuqirah ini, biasanya pada malam hari anak-anak yang mengaji cukup ramai. Namun sejak 2 hari ini sudah tidak ada seorangpun anak yang mengaji, karena orang tuanyapun tidak mau mengantar anaknya untuk mengaji. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, H. Moh. Rais, SPd, Msi, meskipun baru sebatas isu, namun pihak sekolah, guru dan orang tua sama-sama ikut mewaspadai isu soal pencuikan anak, utamanya untuk anak TK dan SD. Salah satunya dengan meningkatkan komuniasi dan pengawasan terhadap anak, disaat pergi dan pulang sekolah oleh orang tuanya serta selama berada di sekolah oleh para guru. “Jadi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu komunikasi yang baik antara guru dan orang tua siswa. Misalnya jangan sampai anak pulang sendirian, serta pihak sekolah berupaya memenuhi jam pulang bagi siswanya, sehingga tidak terjadi kepulangan siswa tidak diketahui oleh orang tuanya," tandasnya. Ditambahkan, jika ternysts pada waktunya anak sudah pulang namun belum pulang segera orang tua menanyakan maupun menghubingi melalui telpon ke pihak sekolah apakah anaknya sudah dipulangkan, sehingga cepat diketahui dan segera dilakukan pencarian. Moh. Rais berharap, hal tersebut hanya sebatas isu saja dan tidak sampai terjadi, khususnya pada anak dan siswa di Sumenep. Dan pihaknya belum bisa melakukan langkah koordinasi dengan aparat karena memang baru sebatas isu. ( Ren, Adjie )