Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 11-05-2016
  • 3023 Kali

Bahasa Madura Dan Peran Tim Nabara Kabupaten Sumenep

News Room, Kamis ( 12/05 ) Bahasa Madura memiliki beberapa dialek. Namun diantara beberapa dialek tersebut, dialek Madura Timur, yakni Sumenep, dianggap sebagai “patokan” bahasa Madura. Standarisasi tersebut sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. 

“Dulu sudah diteliti oleh banyak pakar bahasa di masa kolonial, dan kemudian diperkuat dengan terbitnya Surat Keputusan (beslit atau besluit) Kerajaan Belanda Nomor 44 Pasal 1, tanggal 21 September 1892, dan Keputusan Hindia Belanda : Staatblad Hindia Belanda 1893 Pasal 6 : Bahwa Bahasa Madura Timur atau Sumenep merupakan bahasa Madura Standar (baku),”kata Ketua Tim Nabara, H. RB. Nurul Hamzah, pada Media Center. 

Mengutip ayahnya, almarhum RP. Abd. Sukur Notoasmoro, menurut Nurul Hamzah linguistik bahasa Madura Timur nyaris sempurna. Sebab, memenuhi gramatikal, fonologi, morfologi, morfofonologi, dan sintaksis dalam ilmu bahasa. 

“Disamping itu, bahasa Madura Timur memiliki tingkatan yang sangat halus. Seperti bahasa engghi bhunten halus yang dulu merupakan alat komunikasi antara rakyat dengan rajanya, dan itu terinspirasi dari Keraton Sumenep,”kata Nurul. Namun rupanya, masalah perbedaan dialek ini bukan faktor utama terhambatnya perkembangan bahasa Madura. 

Faktor utama ialah masalah beda ejaan seperti yang disebut sebelumnya, disamping faktor lainnya seperti tidak adanya daya saing. Kondisi ini direspon oleh kalangan pemerhati, pemrasaran, dan praktisi bahasa Madura, khususnya di Sumenep. 

Dua puluh sembilan tahun silam dibentukkan sebuah Tim Pembina Bahasa Madura atau disingkat Tim Nabara. Tim ini secara resmi dibentuk tanggal 3 April 1987. Pendirinya ialah Pak Sukur, Pak Said Hidayat (saat itu Kepala Kandepdikbud Sumenep), dan kawan-kawan. Pak Sukur sekaligus didaulat sebagai Ketua pertamanya. Kini Ketua Tim Nabara dipegang oleh Nurul Hamzah sendiri. 

“Secara garis besarnya, tugas Tim Nabara ada 3, yaitu pembinaan, pelestarian, dan pengembangan bahasa Madura,”kata pria yang akrab dipanggil Haji Nono ini. 

Menurut pensiunan Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, sekaligus Ketua Umum PGRI Sumenep ini, sejatinya, dirinya hanya pengemban amanah sekaligus pelanjut niat luhur sesepuh Tim Nabara. 

“Kita memiliki beberapa renstra (rencana strategis; red), dan sebagian sudah terealisasi, yaitu pembinaan dan pengembangan bahasa. Termasuk juga pengembangan karya tulis. Upaya kongkret yang kita lakukan seperti lomba tulis berbahasa Madura. Meliputi cerpen, puisi, pidato dan lain-lain,” ungkapnya. 

Renstra lainnya meliputi pengembangan organisasi, penggemblengan karya tulis bahasa Madura, memiliki perpustakaan bahasa Madura. Terkait hal itu, Tim Nabara tentu tak berdiri sendiri, menurut Nono tim harus melakukan pendekatan ke beberapa sektor atau lini, di antaranya ialah sektor pendidikan yang dalam makna agak sempitnya adalah sekolah. 

“Jadi, bahasa Madura tergantung pada warga Madura sendiri selaku penutur. Alhamdulillah masih banyak kalangan yang peduli, dan satu visi dengan tim. Tinggal mengembangkan. Kuncinya, kecintaan pada bahasa Madura harus ditingkatkan. Salah satu aksinya ialah membiasakan berbahasa Madura yang baik, dan benar dalam kehidupan sehari-hari,”tutupnya. ( Farhan, Esha )