News Room, Rabu ( 16/03 ) Musim penghujan membuat harga komoditas bumbu dapur meroket. Pasalnya, curah hujan yang lebat tahun ini berpengaruh negatif pada aspek tani. Bawang merah dan cabai misalnya, harga keduanya saat ini meroket hingga seratus persen dari harga sebelumnya.
“Harga cabai sekarang sudah mencapai Rp. 5.000,00 per-ons. Atau Rp 50.000,00 perkilogramnya,”kata Iyem, salah satu penjual nasi pecel di Sumenep, pada Media Center.
Usut punya usut, ternyata penyebab naiknya harga cabai tersebut karena faktor hujan yang membuat cabai banyak yang menjadi busuk, sehingga tidak bisa dijual. Efeknya, produksi berkurang dan berbanding terbalik dengan permintaan pasar.
“Iya, hasil panenan kami banyak yang busuk karena hujan. Ada yang rusak karena hujan dan angin yang kencang,”kata Lamri, salah satu petani cabai di Sumenep.
Tak hanya Lamri, Wiwit, salah satu petani bawang merah di Sumenep juga mengakui, jika saat ini panen cabai dan bawang tidak menguntungkan. Banyak tanaman Wiwit rusak dan juga busuk akibat curah hujan yang lebat.
“Tahun ini rugi mas. Ya, terpaksa harga jualnya dinaikkan. Paling tidak bisa menutupi modal,”kata Wiwit.
Berdasar pantauan Media Center, harga bawang merah di beberapa pasar di Sumenep berkisar Rp. 70.000,00 per-kilogram. Padahal di bulan sebelumnya masih berkisar Rp. 30.000,00 hingga Rp. 40.000,00 per- kilogram.
“Iya, pak. Sekarang bawang naik harganya, karena banyak yang busuk akibat hujan,”aku Mak Ena, salah satu pedagang pasar di Sumenep.
Lain lagi di wilayah pinggiran Sumenep, seperti di Saronggi misalnya. Harga bawang merah di sana cukup fantastis, tembus hingga Rp. 20.000,00 lebih per-seperempat kilogramnya, dengan alasan yang sama.
“Sekarang harga bawang merah naik. Per-kilonya Rp. 90.000,00. Ya, mau bagaimana lagi pak. Petani sudah rugi, karena banyak yang busuk akibat hujan,”kata Lia salah satu petani sekaligus pedagang bawang merah di Saronggi. ( Farhan, Esha )