Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-04-2013
  • 824 Kali

Bedah Buku “ Mencari Madura” Karya, A. Latif Wiyata

News Room, Senin ( 01/04 ) Melalui buku yang di karangnya yang berjudul “Mencari Madura”, Prof. DR. A.Latif Wiyata mengaku akan mengajak masyarakat Madura agar terinspirasi untuk terus mencari Madura. Serta menjadi pintu masuk bagi para akademisi dan ilmuwan dalam membuat karya ilmiyah dan sebagainya. Hal tersebut diungkapkan Latif Wiyata pada acara Bedah Buku “Mencari Madura” di Gedung Universitas Wiraraja Sumenep, Senin (01/04). Menurutnya, sebuah karya ilmiyah akan bermakna jika dapat menjadi inspirator bagi pembacanya. “Karena itu dipilihnya judul mencari Madura, karena Madura memang tidak akan pernah habis untuk di cari dan digali dari berbagai aspek, ilmu pengetahuan dan sebagainya.”Ujar Dosen Universitas Jember ini. Penulis buku “ Carok “ ini juga menambahkan, buku mencari Madura yang merupakan kumpulan artikel - artikelnya sekitar hampir 15 tahun. Serta berbagai pemikiran, gagasan dan hasil penelitian yang dilakukan di Madura seperti masa pengungsi Sampit di Madura. Buku yang berisikan tentang sosial, budaya, ekonomi, politik, tentang Suramadu dan berbagai topik lainnya tentang Madura, sengaja dibuat dengan bahasa yang tidak berbelit-belit, agar enak dibaca kapan dan dimasa saja. Bahkan, untuk penerbitan bukunya Latif mengaku tidak minta royalti sepersepun, namun sengaja memang untuk di sedekahkan untuk Madura. Sementara Rektor Universitas Wiraraja Sumenep, Hj. Alwiyah, SE, MM yang juga sebagai pembanding mengaku bangga dipilihnya Unija sebagai tempat bedah buku Mencari Madura oleh A. Latif Wiyata yang memang asli kelahiran Sumenep itu. Menurutnya, dengan bedah buku tersebut diharapkan akan muncul banyak pertanyaan dan masukan yang berarti. “Sehingga, nantinya juga akan banyak muncul artikel - artikel mengenai Madura yang memang ditunggu-tunggu masyarakat Madura.”tambahnya. Pada kesempatan tersebut hadir pula pembading lainnya Drs. Kadarisman Satrodiwirjo, M.Si Budayawan yang juga Wakil Bupati Pakemasan. Hadir pula Budayawan asal Sumenep, D. Zawawi Imron, praktisi pendidikan dan mahasiswa di Sumenep. ( ren, y2k )