Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 13-10-2014
  • 341 Kali

Belanja Langsung APBD 2014 Baru Terealisasi 38,33 Persen

News Room, Senin ( 13/10 ) Satu semester Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sumenep tahun 2014 berlalu, namun serapan dalam belanja langsung masih sangat minim. Hingga tanggal 7 Oktober 2014 kemarin, baru terealisasi 38,33 persen. Berdasarkan data dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Sumenep, dari pendapatan daerah mencapai Rp. 1.606.000.000.000,00 lebih, terealisasi Rp. 1.235.000.000.000,00 lebih atau 76,93 persen. Sementara untuk belanja daerah Rp. 1.771.000.000.000,00 lebih, terealisasi Rp. 1.010.000.000.000,00 lebih atau 57,5 persen. Dari total anggaran yang disediakan, alokasi untuk belanja langsung mencapai Rp. 688.717.000.000. Namun, baru terealisasi 38,33 persen, atau sekitar Rp. 264.012.000.000, sehingga anggaran tersebut masih tersisa sebesar Rp. 424 milyar. Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Sumenep, Drs. Carto, MM menjelaskan, APBD 2014 memang belum terealiasasi 100 persen, karena masih ada sisa waktu berjalanan selama 3 bulan terakhir ini. “Dari APBD Sumenep tahun 2014 ini, pendapatan daerah terealisasi 76,93 persen. Dan belanja daerah terealisasi 57,5 persen,”kata Carto, Senin (13/10). Carto mengakui jika untuk belanja langsung baru terealisasi 38,33 persen. Diperkirakan karena arus kegiatan yang belum selesai secara keseluruhan dimasing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). “Anggaran dan kegiatan ditiap SKPD kan bervariasi. Bahkan, ada juga pelaksanaan proyek dilakukan secara tender yang rata-rata tendernya mundur, sehingga mempengaruhi terhadap realisasi anggarannya,”terangnya. Penyebab lainnya, lanjut Carto, dimungkinkan ada kegiatan yang memang tidak bisa dilaksanakan, karena proses tertentu. “Banyak hal penyebabnya, seperti ada proyek yang telah dianggarkan tapi tidak bisa dilaksanakan. Ditambah kendalan bantuan sosial dan hibah yang pencairannya sangat lambat. Biasanya menjelang akhir tahun baru terealisasi,”ujarnya. ( Nita, Esha )