Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 26-10-2015
  • 1951 Kali

Berbagai Sudut Makna Hari Jadi Kabupaten Sumenep

News Room, Selasa ( 27/10 ) Dalam susunan keluarga besarnya, Sumenep merupakan anak tertua. Disamping Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, yang sama-sama merupakan anak kandung Madura. Tidak kurang dari 4 hari mendatang, tepatnya tanggal 31 Oktober 2015, Sumenep sudah berusia 746 tahun. 

Usia yang sangat sepuh, setua usia Nusantara (jika diukur dari berdirinya Majapahit, bahkan masih lebih tua lagi, karena Majapahit didirikan pada tahun 1293 oleh Raden Wijaya, sedang usia Sumenep diukur dari bertahtanya Aria Wiraraja di tahun 1269 silam).

Bahkan sejarahpun mengakui, bahwa Sumenep merupakan cikal bakal tegaknya sistem pemerintahan monarki terbesar di Indonesia yang namanya terinspirasi dari buah Maja yang pahit rasanya itu (sebagai gambaran bahwa proses berdirinya Majapahit begitu getir, begitu jauh dari kesan instan, dan apalagi manis).

Mengingat sejarah awal Sumenep yang begitu berperan dalam proses peradaban hingga memasuki era baru dari sistem bernama demokrasi ini, tentu sangat tidak arif jika peringatan milad Sumenep hanya berkutat pada tataran serimonial dan karnaval, yang bisa jadi kering dari makna.

"Hari Jadi merupakan momen introspeksi diri. Sebuah momen yang harus dimaknai sebagai perbaikan. Namun, bukan berarti yang sekarang ini buruk, melainkan harus lebih baik lagi. Jadi, hari esok harus lebih baik dari kemarin.

Ini tantangan, karena sesuai sabda RasuluLlah SAW, zaman akan semakin buruk. Tapi menurut saya itu semacam warning, agar kita berhati-hati,”kata Drs. H. Kurniadi Widjaja, M.Si salah seorang tokoh masyarakat di Sumenep, pada News Room.

Disamping itu, menurut H. Kurniadi, Sumenep juga memiliki banyak ikon yang harus ditonjolkan. “Seperti saat ini yang sudah banyak dibudi dayakan pohon cemara udang. Disamping ikon, cemara udang banyak memiliki kelebihan, seperti mudah hidup, rindang, daun yang gugur tak mengotori jalan, dan pemangkasannya juga hanya dua kali dalam setahun. Disamping itu, juga perlu budidaya Bekisar, dan itu bisa dipadukan dengan sangkar buatan asli Sumenep. Paduan ini jelas memungkinkan adanya income yang tak sedikit bagi Sumenep,”jelasnya.

Sementara Budayawan Sumenep, Edhi Setiawan, SH berpesan agar Hari Jadi jangan dijadikan sekadar peringatan atau momentum seremonial. Justru menurut Om Edhi, panggilannya, Hari Jadi merupakan momen untuk memposisikan diri dalam menuju Sumenep Sejahtera, baik dari kalangan birokrasi, maupun kalangan rakyat biasa.

“Mengenai harapan, banyak yang saya letakkan. Namun untuk saat ini saya cuma menginginkan pemerintah lebih memperhatikan generasi muda. Selama ini saya lihat mereka kesulitan menemukan pusat kreatifitas, khususnya seni dan budaya. Jadi, sebagai kota budaya dan wisata, saya memimpikan di Sumenep ini ada satu tempat atau sebutan gampangnya sebuah gedung kesenian dan kebudayaan bagi para seniman atau pelajar-pelajar, agar tidak repot-repot dalam mencari tempat berlatih. Dan ini jelas akan menunjang keberhasilan bidang pariwisata kita,”ujarnya.

Sedangkan Tadjul Arifien R, pemerhati sejarah di Sumenep mengatakan, bahwa harus diakui selama ini peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep masih sekadar seremonial. Ia berharap adanya kejawantah dari cita-cita luhur Aria Wiraraja. Minimal menurut Tadjul mengikuti jejaknya. Seperti dalam mengatur strategi, bagaimana masyarakat itu bisa mandiri, bahagia, tenteram, aman dan damai.

“Dalam konteks kini, tentunya Sumenep bisa memiliki peran penting di negara Republik Indonesia. Sejarah mencatat nama Aria Wiraraja dan para penggantinya yang cukup gemilang, kendati masih beraroma feodalisme, namun banyak meninggalkan warisan-warisan yang positif dan bernilai tinggi,”imbuhnya. ( Farhan, Esha )