News Room, Selasa ( 16/06 ) Dalam sejarah kemanusiaan, budaya atau kultur (kata adopsi dari bahasa Inggris, culture) merupakan hasil kreasi manusia yang usianya sudah relatif tua.
Budayapun juga beragam, seberagam suku, bangsa, maupun etnis dari manusia itu sendiri. Sebuah karakter yang diwariskan secara genetik, turun-temurun, dan seringkali mengalami pergeseran seiring munculnya pengaruh-pengaruh luar. Namun, karena budaya itu terus dipelajari, paling tidak budaya tetap hidup dalam otak setiap manusia. Memberi warna dalam hidup dan melekat pada setiap tarikan nafas.
Singkatnya, hanya kematian yang memisahkan budaya dengan manusia. Sesuai dengan kata asalnya budhdhayah (bahasa Sansekerta) yang merupakan bentuk jamak dari kata budhdhi (budi atau akal), budaya menentukan kualitas dari jati diri manusia, sehingga bisa saja mengatakan bahwa budaya merupakan salah satu anasir kehidupan yang membedakan manusia dengan hewan.
“Jadi, budaya itu bermakna positif, sehingga yang merupakan kebiasaan buruk tentu tidak bisa dikatakan budaya. Ini kalau merujuk pada kata asalnya, maupun sejarah budaya itu sendiri,”kata Nurul Hidayat, S.Pd, salah seorang pemerhati budaya di Sumenep, pada News Room.
Alumni Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan ini menambahkan, bahwa budaya tetap tunduk pada agama. Karena setiap hal yang baik menurut akal, justru terkadang tidak menurut agama, sehingga budaya haruslah berkiblat pada agama.
“Dalam menyikapi budaya, agama Islam bersikap toleran, sekaligus tegas. Toleransi itu terlihat dalam ijtihad para ulama yang kadang menjadikan budaya atau kebiasaan masyarakat dalam mengistimbath hukum fiqih. Namun tegas ketika berhadapan dengan kebiasaan yang mengarah pada syirik,”papar Nurul.
Intinya, budaya yang tidak bertentangan dengan agama, justru tetap dilestarikan. Sebaliknya yang justru bertentangan, menurut Nurul sebisa mungkin diarahkan.
“Budaya jangan sampai dihilangkan, karena itu merupakan karya menomental umat manusia. Terlebih lagi, pada hakikatnya relatif tidak ada unsur negatif dalam budaya. Karena ia terbentuk dari akal atau budi. Jadi, disamping jangan sampai dihilangkan, juga jangan pernah mengabaikan,”tegasnya. ( Farhan, Esha )