Media Center, Rabu ( 23/01 )
Cuaca buruk kerab terjadi akhir-akhir ini di wilayah perairan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang menyebabkan persediaan sembilan bahan pokok (sembako) di kepulauan, menipis. Sehingga sudah saatnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memiliki gudang penyangga sembako di kepulauan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Sumenep, Hairul Anwar, mengatakan, sesuai data untuk saat ini persediaan beras cukup untuk 3 bulan ke depan. Hanya saja, yang menjadi persoalan ketika musim angin seperti sekarang ini tidak ada transportasi laut berani berlayar. Sehingga persediaan kebutuhan pokok di kepulauan kian terbatas.
“Persoalan inilah yang semestinya disikapi secara serius. Kasihan kan masyarakat kepulauan, tiap musim angin selalu menjerit soal persediaan sembako. Hampir tidak ada transportasi yang bisa berlayar akibat cuaca buruk,” katanya, Rabu (23/01/2019).
Menurutnya, jalan keluar untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Sumenep harus membuat gudang-gudang penyangga di tiap-tiap pulau seperti Kangean, Sapeken, Masalembu, Raas, Sapudi, dan Giligenting.
“Gudang penyangga ini untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat kepulauan. Itu berguna ketika cuaca buruk melanda Perairan Sumenep. Masyarakat di kepulauan tidak bingung lagi soal persediaan sembako,” paparnya.
Hairul yang juga seorang pengusaha muda ini mengaku sudah sering menyampaikan mengenai kebutuhan gudang penyangga di kepulauan. Akan tetapi, faktanya hingga awal tahun 2019, belum ada program yang mengarah kepada pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat kepulauan di saat cuaca buruk seperti saat ini.
“Sudah saatnya Sumenep memiliki gudang penyangga di tiap-tiap pulau. Ini sangat penting dan masuk kategori berbahaya kalau dibiarkan. Karena persoalan kelangkaan kebutuhan pokok terjadi di saat gelombang tinggi menerjang perairan Sumenep yang mengakibatkan moda transportasi tak bisa berlayar,” ungkapnya.
Apalagi, lanjut Hairul, kebutuhan pokok diantaranya beras di Sumenep sangat tinggi. Sementara produksi padi di wilayah setempat, tidak sebanding dengan yang dibutuhkan.
“Mudah-mudahan masyarakat kepulauan lebih diperhatikan lagi oleh Pemkab Sumenep, bukan hanya dari segi infrastruktur saja. Tapi ketersediaan kebutuhan pokok dan transportasinya juga,” pungkasnya. ( Nita, Fer )