Sumenep-Kominfo News Room : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Propinsi Jawa Timur memprediksi Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) di Jawa Timur berhasil ditekan sekitar 1 prosen. Penekanan LPP ini merupakan instruksi Gubernur Jatim, H. Imam Utomo, bahwa jumlah LPP di Jatim pada 2006 ini harus berhasil ditekan sekitar 1 prosen dari 37 juta jiwa penduduk Jawa Timur. Kepala Bidang (Kabid) Keluarga Berencana (KB) BKKBN Propinsi Jawa Timur, Dra. Sri Setyowati, Apt saat ditemui di kantornya Surabaya, Senin kemarin (28/08) siang mengatakan, dengan melihat perkembangan jumlah Peserta Baru (PB) Keluarga Berencana yang terdaftar disetiap klinik di seluruh Jatim maka sangat dimungkinkan target yang diberikan Pemerintah Propinsi (Pemrpop) Jatim sekitar 1 prosen dicapai. Dia menjelaskan, untuk dapat mengetahui keberhasilan menekan LPP ini, pihak BKKBN berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim untuk melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) ke beberapa daerah di Jatim. Berdasarkan data yang sudah masuk di BKKBN Jatim, jumlah PB yang sudah terdaftar terhitung hingga Juni 2006 sudah mencapai 394.021 pasangan atau sekitar 44,58 prosen. Sedangkan jumlah Peserta Aktif (PA) sebanyak 5.630.140 pasangan atau sekitar 76,01 prosen. “Jumlah PA ini sudah termasuk tambahan dari jumlah PB yang terdaftarâ€, ujarnya. Menurutnya, dengan melihat data seperti itu maka sudah dapat dipastikan jumlah LPP di Jatim akan berhasil ditekan. Karena menurut target LPP ini jumlah yang harus ditekan sebanyak 883.950 pasangan pada tahun 2006 ini. Namun hingga Juni 2006 masih sekitar 394.021 pasangan. “Jadi Kekurangan target yang belum dipenuhi sekitar 489.929 pasangan atau sekitar 55 prosenâ€, katanya. Lebih lanjut Sri menjelaskan, langkah yang dilakukan pihaknya adalah menyelesaikan kekurangan target itu adalah menggiatkan beberapa program KB serta akan menjalankan program KB baru yakni kegiatan momentum TNI manunggal KB serta program kesatuan gerakan PKK KB kesehatan. “Dengan adanya program yang belum disosialisaikan ini maka kemungkinan besar target yang belum dicapai akan dapat diselesaikan hingga Tahun 2006 iniâ€, prediksinya. Sri menjelaskan, alat kontrasepsi yang sering digunakan peserta KB adalah suntik, pil KB. Alat Kontrasepsi dalam rahim, susuk, steril, kontak wanita, dan kontak pria serta kondom. Sri mengatakan, daerah yang tertinggi PB nya adalah Kab Tuban, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Malang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Jombang, Kota Malang dan Kota Surabaya. Sedangkan daerah yang belum maksimal mengunakan alat kontrasepsi adalah Kota Blitar dan Kabupaten Kediri. “Daerah yang tidak kami sebutkan adalah daerah yang masih dikategorikan normal, artinya penggunaan alat kontrasepsi yang jumlahnya biasa saja. Akan tetapi prioritas kami tetap akan memaksimalkan program KB ke seluruh pelosok Jatimâ€, tandasnya. Sri menuturkan, sebagian besar PA yang terdaftar adalah 30 prosennya adalah masyarakat dari keluarga miskin. “Diharapkan gakin di Jawa Timur memakai alat kontrasepsi, agar LPP ini bisa ditekan sesuai yang diharapkanâ€, paparnya. ( JNR, Esha )