News Room, Kamis ( 21/02 ) Dalam menghadapi dunia global yang membawa pengaruh materialisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Sumenep sangat diperlukan, agar kita tidak terjebak pada moralitas asing yang bertentangan dengan moralitas lokal atau jati diri bangsa. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Drs. Bambang Iriyanto, M.Si ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (21/02), menuturkan, sebagai orang asli Sumenep harus mengenal budaya Madura yang masih hidup, bahkan yang akan dan telah punah. Pengenalan terhadap berbagai macam kebudayaan Madura tersebut akan diharapkan mampu menggugah rasa kebangsaan kita akan kesenian daerah. Berbagai bentuk seni budaya tradisional yang ada di Sumenep Madura menunjukkan betapa tingginya budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Secara garis besar jenis-jenis kebudayaan tradisional Madura dapat dibagi 4 kelompok, diantaranya: Seni musik saronen dan musik ghul-ghul, seni tari muang sangkal dan tari duplang, upacara ritual yakni sandhur pantel, seni pertunjukan berupa kerapan sapi dan topeng dalang. Selanjutnya Bambang menambahkan, perlombaan memacu sapi pertama diperkenalkan pada abad ke 15 (1561 M) pada masa pemerintahan Pangeran Katandur di Keraton Sumenep. Namun kerapan sapi kini tidak seperti dulu lagi dan telah terpengaruh adanya budaya materialisme. ( JuP-01, Fery )