News Room, Selasa ( 06/10 ) Letak geografis Madura yang menguntungkan untuk budidaya rumput laut, merupakan peluang yang tak boleh disia-siakan. Sebab, usaha rumput laut tetap menjadi komoditi pasar dunia yang prospektif. Meskipun, adakalanya ketika pasar dunia turun, usaha rumput laut tetap berjalan. Hal tersebut diakui Ketua Koperasi “Aneka Usaha†Desa Aeng Dake Kecamatan Bluto, Mashuri, ketika ditemui disela-sela kesibukannya, Selasa pagi tadi (06/10). Menurut Mashuri, meskipun harga rumput laut turun, pihaknya terus menerima pasokan hasil rumput laut, yang datang tidak hanya dari Kecamatan Bluto dan Saronggi, namun juga dari luar Kecamatan, seperti Gili Genting, Talango dan dari daerah kepulauan yang memiliki potensi hasil rumput laut. Mashuri menambahkan, permintaan ekspor masih tetap menerima jumlah yang lebih besar dari Indonesia. Mashuri mengaku, ia juga menyiapkan produksi rumput laut siap saji, agar memudahkan dalam melakukan ekspor ke berbagai negara, seperti China dan Hongkong. Diakuinya, Madura memiliki jalur ekspor yang lebih baik, ketimbang produksi rumput laut asal Sulawesi dan Kupang, yang notabene juga penghasil rumput laut cukup besar di Indonesia. Menurutnya Mashuri, jika dibandingkan dengan sebelumnya, harga rumput laut pada musim panen bulan lalu turun hingga lebih setengah harga sebelumnya. Hal itu disebabkan faktor bencana yang terjadi di Philipina, dan secara kebetulan juga ada kegiatan Olimpiade di Beijing. Ada kemungkinan kedua faktor tersebut yang menjadikan pasar ekspor dunia menurun. Sehingga terpaksa pengambilan harga rumput laut dari petani juga ikut menurun. Dijelaskannya pula, harga rumput laut musim panen tahun lalu mencapai Rp. 14.000,00 hingga Rp. 18.000,00 per-kilogram. Namun, tahun ini hanya berada di kisaran Rp. 7.000,00 per-kilogram. Jika dilihat dari sisi investasi tetap untung, namun dalam analisa usaha yang dilakukan Koperasinya keuntungannya menjadi berkurang. ( Ren, Adjie )