News Room, Rabu ( 02/07 ) Kebijakan kenaikan harga elpiji per 1 Juli 2008 sebesar Rp. 5.000,00 per-kilogram, ternyata berpengaruh pada stok dan harga di wilayah Kabupaten Sumenep. Terbukti, stok elpiji di sejumlah distributor banyak yang mengalami kekosongan. Bahkan hargapun tembus hingga sebesar Rp 77.500,00 untuk tabung ukuran 12 kilogram. Kelangkaan elpiji sebenarnya sudah terjadi sejak 2 bulan terakhir. setiap distributor hanya dijatah 40 tabung untuk 2 hari. Dan kekosongan elpiji sendiri terjadi sejak Selasa sore (01/07) kemarin. Salah seorang pelayan toko UD. Sarua Subur (SS) Sumenep, Ayuk Iriyanti mengatakan, kebutuhan elpiji setiap hari selalu mengalami kekurangan, akibat penerapan kebijakan pembatasan pengiriman stok dari perusahaan. "Setiap 2 hari sekali hanya dikirim 40 tabung. Padahal, kebutuhan lebih dua kali lipat," ujarnya. Ayuk, yang merupakan pelayan toko UD. SS, distributor elpiji terbesar di Kabupaten Sumenep mengaku, belum bisa memastikan kapan pasokan elpiji tersebut bakal lancar. Hal serupa juga dialami Toko Gasa Putra, yang berlokasi di Jalan Agus Salim, Kecamatan Kota Sumenep, yang melayani konsumen elpiji bagian utara Kota juga kehabisan stok. "Stok elpiji untuk hari ini kosong,"ujar Zainal Hasan, pemilik Toko Gasa Putra. Sementara itu, warga mengeluhkan kenaikan harga elpiji, karena dinilai sangat memberatkan masyarakat. Seperti yang diutarakan seorang ibu rumah tangga, Ny Imamah (37) warga Perumnas Bangkal, Sumenep. “Kalau semua harga naik, apalagi elpiji juga melambung, masyarakat malah tambah susah ini," keluhnya. Bahkan, ia juga mengaku heran dengan kekosongan stok elpiji. Padahal, harga sudah dinaikkan, kenapa pengiriman mesti dibatasi, sehingga menyebabkan kekosongan. ( Nita, Esha )