Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 17-11-2015
  • 1561 Kali

Empat Solusi Utama Mengatasi Problematika Bahasa Madura

News Room, Rabu ( 18/11 ) Bahasa Madura sebagai bahasa daerah tidak bisa berstatus high dibanding bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan kata lain, bahasa Madura jelas minim daya saing, sehingga di kalangan penuturnya bahasa Madura sering dipakai dengan kurang fasih atau kurang terampil, terutama jika merujuk pada aturan berbahasa yang benar. "Oleh karena itu sedikitnya ada empat cara untuk mengatasi hal itu,"kata pengamat bahasa Madura R. Abdul Karim, pada News Room.

Yang pertama menurut Karim, ialah dikenalkannya sejak dini mengenai Paramasastra Madura. Paramasastra ini fungsinya sama dengan grammar dalam bahasa Inggris, atau ilmu Nahwu dalam bahasa Arab. "Di situ ada fonologi, morfologi, dan ejaan,"kata Karim.

Yang kedua, menurut pensiunan guru SD ini, adalah penguasaan terhadap ondaggha bhasa atau tata krama berbahasa atau bertutur. "Ini sesuai dengan predikat bahasa Madura sebagai bahasa yang berbudaya. Apalagi kita memiliki akar historis sebagai daerah yang memiliki budaya keraton,"tambahnya.

Setelah itu juga perlu mengapresiasi sastra Madura yang diakui banyak pakar sebagai sastra yang tergolong bermutu tinggi, baik dari kacamata sastra maupun kandungan moralnya. "Seperti misalnya prosa (gancaran), syair atau syiir, pantun, paparegan, tembang, dan lainnya, yang kini sudah mulai terkubur,"imbuh Karim.

Ketiga hal itu, menurut Karim harus ditopang oleh solusi keempat, yaitu kurikulum pendidikan. Artinya, bahasa Madura harus masuk kurikulum, dan bukannya sebatas materi keterampilan.

"Makanya dulu pakar bahasa Madura seperti Bapak Abd. Sukur Notoasmoro tidak setuju jika didirikan Fakultas Bahasa Madura. Jadi harus dikonsep secara matang terlebih dulu,"tutup Karim. ( Farhan, Esha )