Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 19-03-2015
  • 385 Kali

Geliat Program Kemitraan Sekolah (School Sister) Di Sumenep

News Room, Jumat ( 20/03 ) Program kemitraan sekolah di Sumenep sudah berjalan sekian tahun lamanya. Beberapa pelajar atau mahasiswa dari luar negeri sudah banyak yang menjejakkan kakinya di bumi Sumekar. Khusus di Sumenep atau Madura, program ini ditangani Topsii Ednovation International (Lembaga Program Kursus dan Sertifikasi serta Pertukaran Pelajar Internasional).

“Sudah sejak tahun 2010 lalu. Jadi sudah berjalan selama kurang lebih 5 tahun,” kata H. Tomo, S. Pd., M.Si, agen Topsii Ednovation International Perwakilan Madura, kepada News Room, Jumat (20/03).

Setiap tahun, menurut Tomo, Sumenep biasanya kedatangan 2 sampai 3 kali pelajar atau mahasiswa dari Negara asing. Pertama kali yang menjejakkan kaki di Sumenep salah satunya Martina Kracilova, mahasiswa University of Economics, di Prague, Ceko.

“Untuk tahun 2015 ini, barusan kita kedatangan dari Ukraina dan Rusia,” kata mantan Kepala SMPN 2 Kalianget yang saat ini bergeser sebagai kepala SMPN 1 Kalianget ini.

Program ini menurut Tomo sangat berpengaruh positif bagi siswa, karena menjadi motivator bagi para murid dalam belajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Memang selama berada di Sumenep, para pelajar asing itu mukim di kediaman Tomo, dan dikenalkan ke beberapa sekolah di Sumenep. Tak hanya itu juga diberi kesempatan mengajar bahasa Inggris, tentu saja tanpa memakai bahasa Indonesia.

"Tapi kalau saya lihat selama ini, tanggapan siswa sangat positif. Bahkan dengan begitu, siswa malah makin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris. Karena berbeda dengan sebelumnya, dimana mereka hanya bisa belajar melalui buku, sekarang bisa langsung dengan penutur aslinya," kata Tomo.

Materi pelajaran yang diberikan juga tidak terlalu sulit. Menurut Tomo sebatas kegiatan sehari-hari. “Secara umum saja. Biar siswa terlatih bicara, tak hanya bisa tulis saja,” imbuhnya.

Mengenai proses mendatangkan pelajar luar itu menurut Tomo, dirinya yang menjemput bola. “Jadi ketika ada (pelajar asing; red), saya minta dan saya arahkan ke Sumenep. Tentunya ini atas ijin dan restu dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep terlebih dulu,” pungkasnya, menutup pembicaraan. ( Farhan, Esha )