News Room, Rabu ( 21/08 ) Suahnam (14), warga Dusun Tenggina, Desa Batang-batang Daya, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, hidup dengan penuh penderitaan. Minimnya penghasilan, membuat hidup serba pas-pasan, namun mirisnya lagi harus menderita tumor ganas. Sudah satu tahun ini tumor ganas berupa benjolan di lehernya menggerogoti tubuhnya. Alhasil, kain hari semakin membesar. Bahkan dirinya pun harus berhenti bekerja mengayuh becak, karena kesulitan menggerakkan leher. “Awalnya benjolan ini hanya sebesar telur. Tidak saya hiraukan karena tidak menimbulkan sakit. Tapi ternyata makin lama makin membesar, dan membuat leher saya tidak bisa bergerak,”katanya. Menurut pria lulusan SD ini, membesarnya leher bagian belakang itu juga menyiksanya. Setiap hari rasa sakit terus menderanya dan leher seperti terbakar. “Sakitnya itu panas seperti terbakar, dan juga nyeri. Akibatnya saya sulit tidur. Karena tidak punya biaya, saya hanya berobat ke Puskesmas Batang-batang. Disana hanya dibersihkan dengan alkohol. Tapi, upaya tersebut sia-sia. Benjolan ini makin membesar,”terangnya. Suahnam, merupakan anak keempat dari lima bersaudara, dari pasangan Surair dan Sumi itu mengaku pasrah dengan keadaan. Sebab, untuk berobat ke rumah sakit tidak mampu, karena biayanya cukup besar. Kondisi Suahnam ini ternyata diketahui Wakil Bupati Sumenep, Ir. H. Soengkono Sidik, S.Sos, M.Si yang langsung mengeluarkan rekom, agar secepatnya Suahnam mendapat surat rujukan dari RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, ke Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya untuk melakukan operasi tumor yang kian hari kian membesar. Wabup mengatakan, tumor yang menempel di leher Suahnam, tergolong tumor ganas yang harus segera mendapatkan perawatan. Jika tidak, tumor tersebut akan semakin membesar dan bisa merenggut nyawa penderita. ”Ini harus secepatnya di operasi, karena kalau tidak ditangani tumor itu akan semakin mengembang serta mengancam keselamatan nyawa penderita, apalagi tumor tersebut tumbuh di leher yang sangat dekat dengan saluran pernafasasan,”tutur Soengkono, Rabu (21/08). Sementara, Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. H. Fitril Akbar, M.Kes menjelaskan, melihat benjolan yang diderita pasien, tidak mungkin untuk ditangani di Sumenep. "Itu perlu penanganan intensif, dengan dokter spesialis bedah khusus dan beberapa dokter spesialis lainnya. Tidak mungkin ditangani di Sumenep. Memang harus ke Surabaya,”tandasnya. Ia memastikan surat rujukan akan segera diterbitkan supaya pasien mendapatkan pengobatan terbaik. “Kami akan membantu secara maksimal. Kalau pun memang tidak punya biaya, kan bisa melalui Jamkesmas, Jamkesda, atau SPM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Tinggal dilengkapi persyaratannya. Pasti kami bantu,”ungkapnya. Sedangkan Sura’ir (50) ayah penderita, mengatakan sangat berterima kasih terhadap pemerintah Sumenep yang telah merekom anaknya, agar secepatnya mendapat surat rujukan dari Rumah Sakit Daerah untuk operasi tumor ke Surabaya. Namun pihaknya masih ragu melakukan operasi ke Surabaya, karena dirinya tidak punya persiapan biaya hidup selama di Surabaya. “Kami sih sangat senang mendapat rekom dari Wakil Bupati Sumenep, tapi kami berpikir dua kali untuk berangkat ke Surabaya. Kalau biaya operasinya tidak ada masalah, tapi biaya hidupnya disana siapa yang nanggung ?. Biaya hidup di Surabaya kan mahal, sedangkan kami tidak memiliki persiapan biaya apapun,”pungkasnya. ( Nita, Esha )