Sumenep-Infokom News Room : Kurangnya pasokan beras di Kabupaten Sumenep, ternyata mempengaruhi perolehan angka inflasi di bulan Pebruari 2006. Terbukti, inflasi di bulan Pebruari 2006 ini hanya mencapai 0,47 persen. Sehingga, angka inflasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan inflasi bulan Januari lalu, yakni dari 1, 23 persen menjadi 0,47 prosen. Demikian diungkapkan Kasie Distribusi Biro Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Kadarisman. Kadarisman mengakui, pasokan beras itu merupakan 10 komoditas penyumbang inflasi terbesar. Sedangkan 7 kelompok barang dan jasa, 6 diantaranya mengalami inflasi, kecuali kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi, yakni 0,03 prosen. Namun, Kadarisman menuturkan, inflasi yang paling signifikan hanya kelompok bahan makanan, yakni sebesar 0,098 prosen. Kadarisman menerangkan, 10 komoditas yang mengalami kenaikan harga dan merupakan penyumbang inflasi terbesar di bulan Pebruari 2006, yakni beras, daging sapi, gula pasir, minyak tanah, perhiasan emas, bawang merah, ikan tongkol, pindang asin, ikan layang, dan daging ayam ras. Lebih lanjut Kadarisman memaparkan, dari hasil pencacahan lapangan, tercatat bahwa di Kabupaten Sumenep selama bulan Pebruari kemarin, terdapat 86 komoditas yang mengalami perubahan harga, dengan rincian 77,91 prosen komoditas mengalami kenaikan harga, dan 22,09 prosen komoditas mengalami penurunan. Sehingga, angka inflasi Sumenep, jika dibandingkan dengan inflasi Jawa Timur dan Nasional, masih berada di posisi bawah. Inflasi Jawa Timur mencapai 0,59 prosen, sedangkan inflasi Nasional 0,58 prosen. Kadarisman menambahkan, untuk inflasi komulatif dari bulan Januari hingga Pebruari 2006, Sumenep mencapai 1,70 prosen. Kemudian, Jawa Timur 2,25 prosen dan Nasional 1,95 prosen. Karena itu, Kadarisman berharap, hingga akhir tahun 2006 nanti, angka inflasi di Sumenep sesuai dengan harapan, yakni 9 kebawah. Sehingga, berdampak positif bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Sumenep, dan mampu mengurangi pengangguran. ( Nita, Diek, Esha )