News Room, Jam’at ( 14/08 ) Bagi Isti Farhyana mendampingi anak putus sekolah dan anak yang bekerja di usia dini karena faktor ekonomi merupakan tantangan sekaligus panggilan jiwa. Sebab, ternyata dari 80 anak yang pernah mendapat program pengurangan pekerja anak yang merupakan paket dari Program Keluarga Harapan (PKH) sejak tahun 2008 lalu oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumenep, masih banyak diantaranya yang tetap menginginkan sekolah. Karena itu Isti terpanggil untuk tetap mendampingi mereka, meskipun tidak mendapat honor seperti pada saat menjadi pendamping tahun 2008 lalu. Bahkan, Isti mengaku terkadang harus mencari donator kesana-kemari untuk membiayai anak yang kesulitan dengan transportasi ketika harus menempuh jarak jauh dengan sepeda pancal. “Saya merasa tetap memiliki tanggung jawab moral maupun material terhadap anak-anak yang masih memiliki cita-cita, namun terkendala oleh biaya sekolah,â€Âujar Isti. Sebab, menurut Isti meskipun untuk biaya sekolah sudah dibebaskan dari pungutan apapun di sekolah, Namun terkadang mereka justeru banyak kesulitan untuk transportasi dan biaya hidup. Karena itulah, alasan mereka rata-rata berhenti sekolah dan memilih bekerja membantu orang tuanya. Karena itu tegas gadis berjilbab yang sehari-hari sebagai guru honorer disalah satu SDN di Kecamatan Kota Sumenep ini berharap adanya orang tua asuh maupun donator yang berkenan membiayai hidup dan sekolah mereka, sehingga cita-cita dan harapan anak-anak bangsa ini dapat menjadi kenyataan. Masih menurut Isti, saat ini dari sekitar 80 anak, ada 30 anak yang sudah masuk diberbagai sekolah mulai dari tingkat SMP dan SMA. Sedangkan lainnya masih diupayakan sebagian masuk di Kejar Paket B dan C. Istri juga punya keinginan nantinya ada lembaga yang peduli dan dapat melindungi mereka dari ketidak berdayaan. ( Ren, Esha )