News Room, Jumat ( 27/07 ) Mengikuti pengajian dan siraman rohani seperti yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sumenep pada suasana bulan Ramadhan saat ini, memiliki banyak keutamaan yang akan diterima sebagai pahala bagi mereka yang dengan ikhlas mengikutinya. Hal tersebut diungkapkan Habib Muksin Al-Hinduan saat menyampaikan ceramahnya pada acara Siraman Rohani Ramadhan minggu pertama di Gedung KORPRI Sumenep, Jumat (27/07), yang dihadiri Bupati Sumenep, Wakil Bupati Sumenep, Ketua DPRD Sumenep, TNI/Polri dan sejumlah PNS lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep. “Pahala mengikuti pengajian seperti ini, sama dengan sholat sunnah 1.000 kali, menjenguk orang sakit 1.000 orang, melayat orang mati 1.000 orang, dan berbagai pahala lainnya yang sepertinya tidak mungkin bisa kita lakukan.”ujarnya. Sementara itu, dalam rangka menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1433 Hijriyah ini, Habib Muksin mengajak ummat Islam untuk tidak sekedar menahan lapar dan haus semata, sementara amal puasa tidak diperoleh karena tidak menjauhi hal-hal yang dilarang dan menggugurkan pahala puasa. Beberapa hal yang dapat menghapus pahala puasa diantaranya, tidak memelihara pandangan dari maksiat, sumpah palsu, adu domba, berbicara bohong, ghaiba dan berbagai perilaku dosa lainnya yang menyebabkan puasanya menjadi sia-sia, dan hanya mendapat lapar dan dahaga. Salah satu contoh perilaku ghaiba misalnya, orang yang melakukan ghaiba akan mengambil amal kebaikan orang yang dibicarakan. Kemudian jika kembali dilakukan justru bisa mengambil dosa-dosa orang yang dibicarakan. Karena itu jauhilah berghaiba yang menyebabkan keburukan pada dirinya sendiri. Sementara itu Habib Muksin Al-Hinduan juga membahas berbagai perilaku orang tua yang bisa mewariskan kefakirannya kepada keturunannya kelak, seperti halnya tidur dipagi hari, makan/minum saat junub, menyapu malam hari dan memumpuk sampah, berjalan di depan guru, enteng dengan sholatnya membiarkan doa kepada orang tua dan berbagai prilaku kurang baik lainnya seperti berwudlu di WC dan sebagainya. “Jika tidak ingin mewariskan kefakiran hendaknya tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti yang seringkai kita dengan nasehat dari para orang tua dulu,”tambahnya. ( Ren, Esha )