Sumenep-Kominfo News Room : Saat ini kondisi dinamika atmosfir secara umum di Jatim memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Selain diperkirakan hingga Oktober akan terjadi La Nina dengan intensitas lemah, kondisi ini menyebabkan musim kemarau di Jatim bersifat basah. Ini ditandai dengan adanya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang terjadi di beberapa daerah termasuk Surabaya. Kepala Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika Klas I Juanda Surabaya, Drs. Endro Tjahjono pada JNR, Jumat (29/06) kemarin mengatakan, saat ini pertumbuhan awan di Jatim tampak berkurang, namun untuk daerah pegunungan pada sore hari dan daerah pantai pada malam hari pertumbuhan awan masih relatif banyak. Diperkirakan untuk tiga hari kedepan, secara umum masih cerah berawan. Sementara peluang hujan diperkirakan dapat terjadi sore dan malam hari dengan intensitas ringan dan bersifat lokal. Untuk angin, umumnya dari arah Timur dan Selatan dengan kecepatan 05-50 km/jam, dengan suhu udara berkisar 17-33 derajat celsius. Sesuai dengan prakiraan itu, di Surabaya sendiri cuacanya juga berawan. Ini karena inter tropical zone atau posisi zona awan penghasil hujan mengalami kenaikan. Sekarang, inter tropical berada di Manado sampai Balikpapan. Sementara masa udara basah yang kemarin ada di Australia Utara, hari ini sudah tidak ada lagi, sehingga hal ini tidak berdampak hujan di Surabaya. Ditambahkannya, angin di Surabaya bergerak dari Timur kecepatan 5-30 km/jam, jarak pandang 2-11 km, dan suhu 24-33 derajat celcius. Khusus untuk penerbangan relatif kondusif, dengan jarak pandang di atas 9.000 meter, dan corebase perawanan di atas 2.000. Untuk kondisi gelombang air laut yakni, laut Jawa tinggi gelombang pada esok hari, Sabtu (30/06) diperkirakan sekitar 0,8-2,5 meter. Sedangkan perairan Kepulauan Kangean 0,8-2,0 meter dan Selat Madura 0,4-1,3 meter. Sedangkan untuk Selat Bali, tinggi gelombang 0,5-1,3 meter dan Samudra Hindia 0,8-2,5 meter. ( JNR, Esha )