Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 14-10-2009
  • 621 Kali

Keberatan Tutup Salsabila, Wali Murid Datangi Ketua DPRD

News Room, Rabu ( 14/10 ) Munculnya kabar di media massa terkait ancaman warga akan menutup Yayasan Salsabila, yang menaungi Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, dan sejumlah lembaga pendidikan Islam, mengundang reaksi para wali murid, termasuk komite KB TK Yabunayya. Sebanyak 7 orang wali murid tingkat SD dan TK mendatangi Ketua Sementara DPRD Sumenep, Rabu (14/10) pagi. Ancaman penutupan Yayasan Salsabila itu, dikarenakan Aris yang juga dikenal dengan nama Nizar, yang merupakan salah satu DPO kepolisian terkait kasus terorisme, menjadi guru bahasa Inggris di lembaga pendidikan milik Yayasan Salsabila. Salah seorang wali murid tingkat SD di Yayasan Salsabila, Badrul Aini, mengaku sangat keberatan dengan tindakan warga, yang akan menutup Yayasan Salsabila. “Terus terang, kami sebagai wali murid sangat keberatan dan tersinggung dengan sikap warga tersebut. Sebab, Aris masih diduga terlibat, tapi apa hubungannya dengan lembaga, tolonglah persoalan ini jangan digeneralkan,”terangnya. Ia menjelaskan, pihaknya melihat ajaran yang diterapkan selama ini di lembaga yang dinaungi Yayasan Salsabila itu, tidak ada yang berbau terorisme. “Ajaran yang diberikan, semuanya sesuai dengan kerikulum yang berlaku,”katanya. Ungkapan serupa juga dilontarkan Sekretaris Komite KB TK Yabunayya, Mohammad Hasan. Ia menjelaskan, tindakan warga ini sangat berlebihan, karena kesalahan yang dilakukan seorang oknum itu tidak ada kaitannya dengan lembaga pendidikan, apalagi yang bersangkutan statusnya masih belum jelas. “Saat ini, status Aris belum jelas, apakah terlibat kasus terorisme atau tidak. Aparat kepolisian masih melakukan proses penyelidikan, tapi warga sudah bertindak lain,” ungkapnya. Sementara, Ketua Sementara DPRD Sumenep, K. Abdul Hamid Ali Munir, mengatakan, pihaknya tidak yakin, jika ajaran yang diberikan Yayasan Salsabila itu mengandung ajaran terorisme. “Apalagi dikatakan sebagai gerbong teroris. Itu sangat tidak benar. Kami yakin, hingga saat ini lembaga pendidikan di Madura tidak ada yang mengajarkan masalah terorisme,” tegasnya. Abdul Hamid menambahkan, pihaknya melihat ajaran yang ada di Yayasan Salsabila itu tidak ada yang aneh. Semuanya masih dalam koridor dan kurikulum yang berlaku. ( Nita, Esha )