Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-12-2014
  • 441 Kali

Kenaikan Tarif Listrik Sumbang Inflasi Sumenep

News Room, Selasa ( 02/12 ) Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per-tanggal 18 Nopember kemarin, berdampak kepada kenaikan tarif listrik untuk pra bayar yang berujung pada laju inflasi di Sumenep bulan Nopember yang mencapai sebesar 1,28 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno, menjelaskan, dampak langsung adanya kenaikan BBM tanggal 18 Nopember 2014 terjadi pada tarif angkutan dan dampak kenaikan tarif listrik bulan Nopember 2014 terjadi pada pelanggan listrik pra bayar. Inflasi untuk tarif listrik sebesar 1,6620 persen dengan sumbangan kenaikan 0,0404 persen. "Selain itu, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah bensin, nasi dengan lauk, beras, cabai merah, cabai rawit, gado-gado, angkutan antar kota, bahan bakar rumah tangga, dan obat dengan resep,"kata Suparno, Selasa (02/12). Inflasi pada bulan Nopember 2014 di Sumenep mengalami inflasi sebesar 1,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,33. Laju inflasi Nopember naik dibandingkan bulan Oktober kemarin yang berada dipoin 0,65 persen. "Meski mengalami kenaikan inflasi dibulan Nopember, namun masih dibawah Jawa Timur yang juga mengalami Inflasi sebesar 1,38 persen dengan IHK sebesar 115,33 dan Nasional sebesar 1,50 persen dengan IHK sebesar 116,14,"terangnya. Suparno mengungkapkan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,41 persen; dan kelompok makanan jadi, minuman rokok dan tembakau sebesar 1,63 persen. "Kemudian kelompok perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,69 persen; kelompok sandang sebesar 0,91 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,09 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,38 persen; serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,46 persen,"ungkapnya. Sedangkan komoditas yang harganya terkendali dan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah daging ayam ras, tongkol pindang, daging ayam kampung, tongkol segar, telepon seluler, daun bawang, layang, cakalang/sisik, bawang merah, kacang hijau dan emas perhiasan. "Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 1,92 persen, diikuti Kediri 1,66 persen, Malang dan Madiun masing-masing sebesar 1,51 persen, Probolinggo 1,31 persen, Sumenep 1,28 persen, Surabaya 1,27 persen, dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 1,22 persen,"tambahnya. Tingkat inflasi tahun kalender Sumenep bulan November 2014 sebesar 5,31 persen; Jawa Timur 5,27 persen dan Nasional sebesar 5,75 persen. Sementara untuk tingkat inflasi tahun ke tahun (Nopember 2014 terhadap Nopember 2013) sebesar 5,71 persen, Jawa Timur 5,85 persen, dan nasional sebesar 6,23 persen. ( Nita, Esha )