News Room, Selasa ( 30/06 ) Sebagian lahan yang ada Desa Torjek Kecamatan Kangayan Pulau Kangean masih banyak yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia untuk digarap. Dan selama ini tetap dibiarkan perawan. Ada sekitar 300 hektar lahan kosong yang merupakan tanah negara. Padahal disana masih cukup banyak untuk lahan pertanian dan perkebunan. Dan ternyata juga masih banyak menyimpan kekayaan alam yang cukup luas dan cukup subur. â€ÂSebenarnya sayang, ratusan hektar lahan itu tidak ada yang merawat, karena memang keterbatasan masyarakat setempat yang kurang memiliki modal untuk menggarap dan menjual hasil pertanian disana,â€Âujar Kepala Desa Torjek, Hairudin ketika di konfirmasi News Room via telepon selulernya tadi siang. Menurutnya, seandainya ada investor yang bisa menanamkan modal untuk menggarap lahan tersebut menjadi lahan perkebunan dan sebagainya, hasil panennya akan melimpah ruah. Serta dapat menambah stok pangan nasional, khususnya di Kabupaten Sumenep. Menurut Kades yang baru 2 tahun menjabat di Desanya ini, hasil pertanian di Desanya sebenarnya cukup bagus. Terbukti, dari sekitar 540 hektar lahan pertanian, sebanyak 183,7 hektar lahan sawah dapat menghasilkan padi yang cukup bagus untuk kebutuhan masyarakat disana. Bahkan sebagian lahan yang ditanami padi hibrida yang merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan, pada musim tanam kemarin, cukup memberikan hasil yang maksimal bagi petani. Sedangkan sisanya, merupakan lahan perkebuan yang banyak ditanami jagung, tanaman palawija dan semacamnya, juga diakui Hairudin cukup bagus. Bahkan, jagung hibrida yang dihasilkan petani sebagian tidak dijual keluar. Desa yang berpenduduk 3.700 jiwa lebih dari sekitar 1.700 KK ini menurut Hairudin, akan siap menjadi pendongkrak ketahanan pangan dari kepulauan. Apabila ada tangan-tangan borjuis yang berkenan memberikan modal kepada petani. Sebab, saat ini ada sekitar 5 home industri yang ada di Desanya mengolah jagung yang dijuluki jagung ketan yang renyah ini menjadi jagung goreng yang dikemas dalam plastik, dan dijual keberbagai daerah lain termasuk ke daratan Sumenep. Bahkan, mereka juga siap melempar ke pangsa pasar dari hasil pertanian dan perkebunan di Desanya. ( Ren, Esha )