News Room, Kamis ( 21/07 ) Pelaksanaan Pekan Olah Raga Propinsi (Porprop) Jawa Timur yang akan berakhir nanti malam di Kota Kediri, menuai kekesalan dan kekecewaan bagi para atlit pencak silat kontingen Kabupaten Sumenep. Disamping, kecewa karena tidak bisa membawa prestasi yang membanggakan, juga nasib yang dialami selama kegiatan berlangsung. Ketua IPSI Cabang Sumenep, Naryo Rasid Sofa Kepada News Room melalui telepon selulernya tadi siang, Kamis (21/07) mengungkapkan, kekecewaan yang mendalam bagi para atlit pencak silat maupun atlit lainnya dari berbagai cabang yang dilombakan. “Yang kami sayangkan, perlakukan panitia sejak awal sudah sangat mengecewakan, karena selama 2 hari para atlit terpaksa makan makanan yang tidak layak dimakan karena basi dan berjamur.”ujarnya. Padahal, tegas Naryo pihaknya sudah komplain di hari pertama, namun tetap terjadi di hari kedua, sehingga terpaksa atlit kembali makan makanan yang tidak layak dikonsumsi, bahkan banyak yang jatuh sakit perut, karena diare dan tidak ada yang bisa dimakan lagi. “Bayangkan, tempatnya sangat jauh dari kota sehingga tidak bisa membeli makanan dari luar hingga akhirnya panitia memutuskan memberikan uangnya yang kemudian dibelikan apa adanya di penginapan,”tambahnya. Bahkan, tegas putra pendekar silat Sumenep, H. Rasyid Sofa ini, dalam pertandinganpun terkesan banyak kecurangan. Padahal beberapa atlitnya yang terang-terangan memenangkan pertandingan malah dikalahkan juri. Naryo mengaku tidak habis pikir dengan pelaksanaan Porprop kali ini, padahal pada pelaksanaan pra Porprop saja banyak atlit pencak silat Sumenep yang meraih nilai tertinggi, namun pada Porpropnya malah tidak berdaya, baik dari suasana maupun kenyataan dalam pertandingan. Karena itu Naryo berharap pada pelaksanaan Proprop mendatang harus betul-betul dilaksanakan secara profesional, sehingga tidak membuat para atlit menjadi kecewa dan sakit hati. “Disamping itu, perhatian semua pihak terhadap prestasi atlit harus betul-betul menghargai, sehingga mereka bisa menjadi duta atlit yang bisa berbangga dan bisa dibanggakan,”pungkasnya ( Ren, Esha )