News Room, Rabu ( 22/06 ) Nama Kiai Abdurrahman atau Kiai Agung Raba Pamekasan, sering disebut dalam sejarah di Madura, khususnya di Sumenep. Hal itu wajar, Sumenep adalah asal-usul beliau. Beliau berasal dari keluarga ulama yang sekaligus berdarah biru.
Dari garis ayah, beliau adalah putra Kiai Abdullah (Kiai Gunung Gelugur), yang berasal dari Sendir, Lenteng, Sumenep. Desa Sendir memang dikenal sebagai kawasan ulama di jaman kuna.
Pertama kali yang membabat Sendir ialah Kiai Rahwan yang dikenal sebagai Kiai Sendir I. Kiai Rahwan berputra Kiai Kumbakara atau Kumbasari (Kiai Sendir II). Kiai Kumbasari berputra Kiai Abdurrahim (Kiai Sendir III), yaitu ayah dari Kiai Abdullah alias Kiai Gunung Gelugur.
"Sejak kecil, Kiai Agung Raba sudah memiliki keistimewaan, tidak seperti anak-anak seusianya. Setiap beliau berucap langsung terjadi sesuai kata-katanya. Seperti misalnya berkata sebentar lagi hujan, maka dalam sekejap hujan turun,"cerita salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, RP. Mohammad Mangkuadiningrat, pada Media Center.
Melihat hal yang luar biasa pada diri putranya, Kiai Abdullah khawatir, sehingga Kiai Agung Raba lebih sering di dalam rumah dan tidak dibiarkan bermain bersama teman-temannya. Hingga kemudian beranjak dewasa beliau dititipkan pada Kiai Imam, di Desa Pandian Sumenep, salah satu ulama besar Sumenep di masanya yang juga diyakini sebagai wali besar.
"Anehnya, kebiasaan Kiai Agung Raba tidak seperti santri lainnya. Ia tidak mengaji malah suka mengadu anjing,"tambah Muhammad.
Mengetahui itu, Kiai Imam yang waskita meminta Kiai Agung Raba, agar melepas kebiasannya itu, karena kelak dirinya akan menjadi teladan besar bagi umat. Kiai Agung Raba menurut.
Kawanan anjing yang biasa dijadikan permainan untuk diadu itu dilepasnya di tempat yang kini menjadi Desa Muangan, Kecamatan Saronggi. Kawanan anjing itu menyebar dan membentuk peta lingkaran imajinatif, mulai dari Muangan ke arah timur dan berputar ke arah utara hingga kembali ke barat. Hingga kini daerah itu dikenal dengan istilah lengker pate’ (lingkaran anjing).
“Di jaman kuna dulu, daerah lengker pate’ itu tidak boleh dijadikan tempat tinggal atau dibangun rumah. Karena diyakini tidak berkah,”kata Muhammad.
Setelah itu Kiai Agung Raba diperintahkan Kiai Imam ke Sampang, untuk berguru pada Kiai Aji Gunung. Di sana Kiai Agung Raba diperintahkan Kiai Aji Gunung mencari cincin isterinya yang hilang karena masuk ke dalam jamban. Patuh, Kiai Agung Raba menguras isi jamban dan menghaturkan cincin.
Senang dengan kepatuhan Kiai Agung Raba, Kiai Aji Gunung bertitah sembari melempar sebatang lidi. “Cari di mana lidi ini nanti menancap, lalu menetaplah di sana,”perintah Kiai Aji Gunung pada Kiai Agung Raba.
Atas ijin Allah, lidi itu melesat hingga ke daerah Pamekasan dan menancap di alas Raba. Setelah itu babak awal kehidupan Kiai Agung Raba di Pamekasan dimulai. “Bahkan diriwayatkan banyak ulama sepuh jaman dulu menyebut bahwa beliau ini Wali Agung yang menjadi pakunya Pulau Madura,”tutup Muhammad. ( Farhan, Esha )