News Room, Selasa ( 22/05 ) Tembakau merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Sumenep, sehingga sangat wajar jika setiap tahun areal tembakau di Sumenep selalu mengalami lonjakan drastis, berbanding balik dengan target yang ditetapkan. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Sumenep, Ir. H. Soengkono Sidik, S.Sos, M.Si pada kegiatan Sosialisasi Penanganan Teknologi Panen dan Pengolahan Hasil Perkebunan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Tahun 2012 di Hotel Utami, Selasa (22/05). Dijelaskan, sampai bulan Oktober 2011 lahan tembakau di Sumenep yang dipanen mencapai 17.293 hektar dengan total produksi mencapai 9.246 ton. Mendatang diproyeksikan meningkat menjadi 22.333 hektar dengan estimasi produksi sebanyak 13.400 ton. “Permasalahan yang klasik terjadi pada komoditas tembakau di Sumenep maupun daerah lain, yakni adanya ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran, mutu tembakau yang belum sesuai dengan permintaan pabrikan.”ujarnya. Disamping itu tegas Wabup Sumenep ini, hambatan cuaca yang berubah-ubah sehingga mempengaruhi mutu dan kualitas tembakau, mayoritas petani tembakau masih menggunakan cara-cara tradisional dalam pengelolaan komoditi tembakau serta masuknya produksi tembakau dari luar daerah. Karena itu pihaknya berharap, melalui sosialisasi tersebut menjadi modal utama bagi petani untuk meningkatkan produksi tembakau yang berkualitas tinggi dimasa mendatang. Pihaknya bersyukur, berkat komunikasi intensif antara Pemerintah Kabupaten Sumenep dengan pabrikan, harga tembakau di Kabupaten Sumenep melonjak tinggi sehingga sangat menguntungkan petani. Disamping itu Bantuan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) untuk Kabupaten Sumenep selalu mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Yakni di Tahun 2009 sebesar Rp. 13.365.977.000,00 dan Tahun 2010 menjadi Rp. 14.487.543.815,00. Dana tersebut dipergunakan pembangunan infrastruktur, pemberian peralatan pasca panen dan modal usaha bagi petani tembakau. ( Ren, Fery )