Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-04-2015
  • 514 Kali

Konferensi Asia Afrika Wujudkan Tatanan Baru

News Room, Rabu ( 22/04 ) Sudah tidak diragukan lagi, spirit Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar 60 tahun yang lalu di Bandung dengan era kekinian masih sangat relevan. Karena itu, wajar bila tahun ini Indonesia memperingati   60 tahun KAA secara besar-besaran di Bandung dan Jakarta.

Peringatan KAA penting dilakukan sebagai sebuah konteksualisasi pemikiran, bukan sekadar sebagai selebrasi atau romantisme terhadap masa lalu.

Pun juga peringatan terhadap KAA sama artinya dengan menerapkan kembali ide-ide besar yang digaungkan para pemimpin Asia-Afrika di 60 tahun yang lalu. Apalagi, banyak peristiwa yang terjadi pada 60 tahun lalu masih juga terjadi hingga kini.

Kita melihat hingga detik ini, upaya menjadikan Palestina merdeka, misalnya masih menemui jalan terjal. Padahal, 60 tahun lalu Konferensi Bandung tahun 1955 atau lebih dikenal dengan Koferensi Asia Afrika telah menelurkan deklarasi hak menentukan nasib sendiri sebagai sebuah bangsa, termasuk untuk Palestina.

Belum lagi tekad untuk mempromosikan terciptanya tatanan dunia yang lebih adil, humanis, dan damai dengan melawan segala bentuk neokolonialisme/imperialisme dan menghargai hak asasi manusia segala bangsa, hingga detik ini masih jauh panggang dari api.

Karena itu, peringatan 60 tahun KAA akan menjadi momentum mengingatkan kembali peristiwa monumental yang menandakan peran aktif Indonesia sebagai salah satu aktor utama Dunia Ketiga pada periode 1950-an tersebut.

Itulah saat sejarah dunia mencatat untuk pertama kalinya negara-negara Asia dan Afrika, yang baru merdeka, setengah merdeka, dan belum merdeka berkumpul untuk mendiskusikan issue-issue dunia di tengah berkecamuknya Perang Dingin.

KAA merupakan momen penting bagi dunia saat itu dan setelahnya, karena memberi visi alternatif melampaui pandangan dua blok besar yang bertikai saat itu, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. ( Esha, Fer )