Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 11-08-2009
  • 724 Kali

Kualitas Tembakau Menurun, Petani Kelimpungan

News Room, Selasa ( 11/08 ) Hasil produksi tembakau yang akhir-akhir ini mengalami penurunan kualitas, membuat para petani kelimpungan. Sebab, hasil produksi tembakau pada musim tanam tembakau saat ini kurang menarik perhatian pembeli di gudang-gudang kecil yang sudah buka. Hal itu seperti diakui Hairudin (52), warga Desa Aeng Dake Kecamatan Bluto. Menurutnya saat ini ia dan beberapa petani di Desanya harus membanting harga untuk mendapatkan uang, minimal sebagai ganti modal penanaman tembakau musim ini. “Kami menyadari kualitas tembakau saat ini memang turun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sebab, dalam beberapa bulan terakhir cuaca memang kurang bersahabat dan membuat daun tembakau tidak tumbuh dengan sempurna,” ujar Hairudin. Namun masih untung, harga krosok masih memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga bisa membantu kerugian penjualan tanaman tembakaunya. Pihaknya mengaku melakukan panen lebih awal karena memang kondisi daun tembakau yang dimilikinya tidak bisa dipertahankan lebih lama untuk menunggu bukanya pabrik besar. Hairudin malah mengaku kuatir, tembakau yang dimilikinya tidak laku ketika jumlah tembakau yang akan masuk ke gudang pabrikan besar seperti ke Gudang Garam dan Sampoerna semakin banyak. Di tempat terpisah, Kepala Desa Aneng Dake, Jonaedi mengaku sulit menghentikan rutinitas petani yang tetap bersikeras untuk tetap menanam tembakau musim ini. Sebab, meskipun mendapat himbauan, baik dari petugas penyuluh maupun berita di berbagai media, namun petani yang sudah fanatik dan pernah mendapat keuntungan besar dari tembakau tetap memilih jenis tanaman tersebut. Setidaknya hampir separuh dari luas lahan 332 hektar di Desanya ditanami tembakau. Meskipun diakuinya, sebagian juga diselingi tanaman kacang-kacangan dan beberapa tanaman produktif lainnya, seperti cabe jamu yang banyak dijadikan tanaman selingan dipinggir-pinggir lahan milik masyarakat. Untunglah, disamping rata-rata bekerja sebagai petani, masyarakat Desa Aeng Dake ada yang membudidayakan rumput laut di sepanjang pantai Desa Aeng Dake dan sekitarnya. Sehingga, penghasilan mereka bisa ganda. Bahkan, ada pula yang turun langsung menggarap rumput laut dengan jumlah tertentu. Disamping itu juga sebagian masyarakat juga ada yang bekerja sebagai buruh di pabrik ikan teri. Setidaknya disamping ada sekitar 30 orang yang bekerja disana, sebagian memilih sebagai pemasok ikan, yang banyak didatangkan dari berbagai tempat di Sumenep, seperti dari Kecamatan Dungkek, Gapura, Talango, Saronggi, serta beberapa daerah lainnya di Sumenep dan Pamekasan. (Ren, Adjie)