Sumenep-Infokom News Room : Rencana optimalisasi Lapangan Terbang (Lapter) Trunojoyo Sumenep tampaknya bukan isapan jempol belaka. Pada 22 September 2005 lalu, ternyata Markas Komando Angkatan Laut (AL) Armada Timur di Surabaya telah menurunkan tim untuk melakukan survey awal. Namun, jadi atau tidaknya, masih menunggu survey lanjutan. Survey awal seperti yang tercantum dalam surat pengantar dari Markas Komando Angkatan Laut (AL) Armada Timur di Surabaya bertujuan untuk mengecek langsung kondisi Lapter Trunojoyo guna dijadikan sebagai pusat pelatihan dan pendidikan penerbang AL. Tak hanya itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Propinsi Jawa Timur juga punya keinginan untuk optimalisasi Lapter Trunojoyo tersebut. Sebagai langkah awal, pada 22 September 2005, Dinas Perhubungan bekerjasama dengan LKPM Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang menurunkan 2 personelnya untuk melakukan study market selama 2 minggu. Tujuannya untuk menjadikan Lapter Trunojoyo sebagai bagian dari pengembangan penerbangan sipil komersil. Sayangnya, Dinas Perhubungan Kabupaten Sumenep masih belum mengetahui secara rinci atas study awal dari Markas Komando Angkatan Laut (AL) Armada Timur maupun dari LKPM Unibraw. �Secara hitam putih, belum ada hasil yang diserahkan pada kita,� terang Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumenep, Drs. H. Moh. Roeslan melalui Kasub Dinas Perhubungan Darat, Drs. RB. Bahaudin. Namun, Bahaudin memastikan, untuk menjadikam Lapter Trunojoyo sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan AL maupun bagian pengembangan penerbangan sipil komersil memerlukan sejumlah perbaikan yang membutuhkan biaya besar. “Upaya pembenahan itu sebaiknya harus dilakukan dari sekarang secara bertahap,� terangnya, Kamis (10/11) kemarin di Kantornya. Pembenahan itu berupa parbaikan landasan pacu (run way) dan lokasi parkir (up ron) pesawat terbang yang telah dimiliki Lapter Trunojoyo. Selain itu juga perlu pengembangan tower yang disertai pengadaan alat navigasi, alat komunikasi, dan petugas khusus. �Itu merupakan sarana yang harus dimiliki oleh Lapter penerbangan komersil,� tukasnya. Selanjutnya Bahaudin mengungkapkan, kebijakan pengembangan Lapter Trunojoyo membutuhkan komitmen yang tinggi antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sumenep. Sebab, pembenahan tersebut memerlukan biaya yang sangat besar, yakni sekitar Rp 5 hingga 10 milyar. “Selama ini, Lapter Trunojoyo itu boleh dibilang lebih banyak tak berfungsi sebagai mana mestinya,� tuntasnya. ( JP, Esha )