Media Center, Kamis ( 02/11 ) Sebuah sumber di Kampung Taposan, Desa Lalangon, Kecamatan Manding,
Kabupaten Sumenep, hingga kini masih memancar. Sumber yang dikemas mirip
taman pemandian ini, seakan tak kenal musim. Biasanya, sumber
lainnya saat kemarau, kering. Namun, sumber Taposan tetap biasa-biasa
saja. Tidak melimpah dan tidak kering. Namun air dari sumber itu tetap
mengalir, sehingga bisa difungsikan sebagai irigasi oleh penduduk
kampung itu.
Namun anehnya, air Taposan tak mau keluar
kampung. Kendati posisi yang akan diairi itu dataran rendah. Air selalu
macet saat mau melintas kampung lain.
“Itu memang sudah sejak
dahulu kala. Sudah banyak cara dilakukan,”kata KH.
Kurniadi Wijaya, salah satu tokoh masyarakat Sumenep yang bertumpah
darah Taposan, pada Media Center.
Keanehan itu menurut KH. Kurniadi merupakan fenomena alam di luar akal manusia. Kuasa Tuhan jelas berada di balik itu. “Ini bisa dikata sisa karomah seorang raja dan kiai, yang keduanya berpangkat arifbillah, atau waliyullah,”katanya.
Ya, sumber itu memang terkait pada 2 nama tokoh. Yaitu Panembahan
Notokusumo I atau Panembahan Sumolo, Raja Sumenep; dan Kiai Baghdi,
seorang pertapa dari Sumenep bagian timur. Konon air memancar dari bekas
tancapan tongkat Kiai Baghdi saat rombongan Panembahan Sumolo yang
melintas daerah itu butuh minum. “Keluarnya air waktu hanya
‘sataposan’ atau sekali tegukan. Makanya oleh Panembahan Sumolo diberi
nama sumber Taposan,”cerita Mudir Jatman Sumenep ini.
Panembahan Sumolo juga lantas berkata, bahwa sumber tersebut hanya akan mengairi kampung tersebut. Perkataan raja yang arif lantas menjadi kenyataan. Hingga kini sabda itu masih berlaku. “Ini kami anggap buah tangan raja dan wali,”kata KH. Kurniadi sambil tersenyum.
Saat ini perawatan
sumber itu ditangani oleh KH. Kurniadi dan saudaranya yang masih tinggal
di Kampung Taposan. Di sana juga banyak peninggalan bersejarah. Seperti sebuah bangunan
yang dulu dipakai Panembahan Sumolo saat setiap pekan ke Taposan untuk
mengunjungi Kiai Baghdi, sebuah mushalla bekas pertapaan Kiai Baghdi,
sajadah batu, dan pasarean Kiai Baghdi. ( M. Farhan M, Esha )