Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 12-05-2018
  • 719 Kali

Lomba Tan-Pangantanan Upaya Mewariskan Budaya Dan Tradisi Leluhur

Media Center, Sabtu ( 12/05 ) Lomba Tan-Pangantanan rangkaian kegiatan Pameran Pendidikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, untuk mewariskan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal masyarakat kepada anak-anak.

“Tradisi Tan-Pangantanan merupakan kekayaan tradisi Sumenep yang telah ada dan diwariskan dari generasi ke generasi. Catatan sejarah, Tan-Pangantanan ini sudah ada sejak abad ke-15 Masehi, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panennya.” kata Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Drs. R. Idris, MM, saat melepas Lomba Tan-Pangantanan Tingkat PAUD tahun 2018 di halaman Kantor Bupati setempat, Sabtu (12/05).

Ia menyatakan, Tan-Pangantanan bukan sekedar permainan yang menghibur, tetapi di dalamnya mengandung nilai-nilai kehidupan yang memulyakan hidup bersama seperti keindahan, kerukunan, tata krama dan keimanan. oleh karena itulah, tradisi ini patut dipertahankan di masa mendatang.

Karena itu, diharapkan lembaga-lembaga pendidikan memperkenalkan anak-anak tentang jati diri dan kekayaan budaya sebagaimana sudah didorong dan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

“Lembaga Pendidikan juga membangun sinergitas dengan lingkungan keluarga penting guna membentengi anak-anak kita dari budaya yang tidak sesuai karakter dan nilai kearifan lokal.” imbuhnya.

Lomba Tan-Pangantanan tingkat PAUD se-Kabupaten Sumenep, merupakan rangkaian kegiatan Pameran Pendidikan dan Apresiasi Seni dan Budaya yang digelar Dinas Pendidikan  Kabupaten Sumenep diikuti oleh 22 regu.

Pj Sekda mengajak orang tua yang memiliki peranan penting membangun karakter anak, harus mengisi memori anak-anaknya dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal mulai sejak dini. Itu dilakukan sebagai upaya untuk memfilter budaya asing yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat.

“Di era digital saat ini, transformasi budaya terjadi begitu deras dan cepat, sehingga jika para orang tua salah mengisi memori budaya kepada anak-anaknya, tentu dampaknya bisa menjadi bumerang terhadap perkembangan anaknya di masa mendatang.” pungkasnya. ( Yasik, Fer )