
Media Center, Jumat ( 28/07 ) Lombang dan Dempo Awang adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama ialah sebutan sebuah tempat yang kini merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Sumenep. Sedang yang ke dua ialah nama seorang tokoh legendaris dalam Babad Sumenep. Tokoh antagonis yang dikalahkan oleh Jokotole dalam sebuah perang adu digjaya. Namun meski begitu ada benang merah antara ke dua nama itu : cemara udang.
“Cemara udang itu memang berasal dari Lombang,”kata Aziz, salah satu warga Lombang pada Media Center beberapa waktu lalu.
Lalu apa hubungannya dengan Dempo Awang? Dalam babad kuna, Dempo Awang dikisahkan sebagai tokoh dari negeri ginseng atau China. Ia disebut sebagai anak raja atau pangeran. Namun, sang pangeran memiliki sifat buruk. Dengan kesaktiannya ia disebut membuat onar di beberapa negeri hingga ke tanah Sumenep.
Di Sumenep, waktu itu diperintah oleh penguasa yang tak kalah sakti mandraguna. Jokotole alias Ario Kudapanule yang bergelar Saccadiningrat. Keratonnya di Lapa, Dungkek. Ujung timur Sumenep sekaligus pulau Garam. Seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit.
Kesaktiaan Dempo Awang yang sepanjang perjalananya tak menemukan lawan seimbang, justru harus bertekuk lutut di kaki Jokotole. Perahu Terbang pangeran China itu hancur lebur dibabat cemeti Jokotole dengan Kuda Terbangnya. Tiang-tiangnya berhamburan menancap di beberapa lokasi, yang salah satunya di perempatan Desa Pandian Sumenep (tepatnya di kampung Pelar atau tiang dalam bahasa Indonesianya).
Kembali pada cemara udang, dalam beberapa cerita tutur masyarakat sekitar Lombang, konon ekspedisi Dempo Awang tersebut memiliki benang merah dengan salah satu kekhasan wisata di sana itu. Itu ditopang dengan asumsi mereka, bahwa sebelumnya tanaman tersebut hanya pernah ada di kawasan Tiongkok.
“Ya para penduduk di sini, seperti penduduk Legung, Dapenda, Lombang yang ada di sekitar Pantai Lombang, Sumenep, Madura, yakin kalau tanaman ini berasal dari China,”tutur Aziz.
Memang, pada faktanya cemara udang banyak ditemui di wilayah pesisir timur di Madura. Namun, memastikan asal-muasalnya tentu tak semudah menemukan pohon ini di Lombang. Tapi setidaknya hal itu bisa menjadi salah satu pintu informasi untuk meneliti lebih lanjut hubungan Cemara Udang di Lombang dengan Dempo Awang. Ada atau tidaknya.
Tak hanya itu, selain bermanfaat mencegah abrasi pantai, cemara ini rupanya juga sudah sering terbukti bisa disulap menjadi tanaman hias dengan harga sangat fantastis.
“Ya sebenarnya nilai rupiahnya juga tergantung pada selera pembeli. Kalau saya sendiri biasanya menjual bonsai cemara udang mulai dari harga Rp 400.000 hingga di atas Rp 1 juta,”kata Aziz. ( M Farhan, Esha )