News Room, Senin ( 18/05 ) Nama Sultan Abdurrahman, Sultan Sumenep yang memerintah sejak tahun 1811 hingga 1854 M, terus terpatri dalam lembar sejarah keemasan Sumenep hingga kini. Selain dikenal sebagai Raja yang sufi dan alim, beliau juga dikenal sebagai ahli strategi dan politik yang handal. Pendapatnya dalam perjuangan yang mengutamakan kemaslahatan umat, dan sangat menjauhi pertumpahan darah di kalangan rakyat, terus menarik untuk dikaji.
“Namun memang harus diakui, konsekuensi dari kukuhnya pendapat beliau itu sering dianggap jika beliau ini pro penjajah,”kata salah satu pemerhati budaya Sumenep, RB. Roeska Pandji Adinda, S.Pd pada News Room.
Bahkan tak kurang dari sosok yang sangat anti penjajah di masanya, Kangjeng Kiyai Adipati Suroadimenggolo V, Raja Semarang, tak bisa membuat Sultan Abdurrahman mengubah pendapatnya. Setelah melalui perdebatan hangat dan penuh kekeluargaan, Kangjeng Kiyai bahkan akhirnya sangat menghormati pendapat menantunya tersebut.
“Dan satu-satunya yang bisa menjelaskan pendapat Sultan secara sederhana ialah politik “Ajhala Sottra” yang dicetuskan beliau,”kata Roeka.
Menurut Roeska, sedikitnya ada 3 garis besar yang mungkin bisa mewakili makna Ajhala Sotra. Yang pertama ialah, filosofi berkuasa tanpa dengan menggunakan paksaan. Kedua, bisa menang tanpa dengan harus berperang. Dan yang ketiga disebutnya filosofi menjadi kaya, tanpa memiliki modal.
“Jadi menilai sesuatu itu memang tidak bisa dengan hanya berdasar kulitnya saja, namun lebih dari itu juga harus mampu menembus isinya. Tapi ya, tentunya memang perlu kearifan tersendiri untuk bisa memetik hikmah dari setiap pemikiran orang-orang besar,”pungkasnya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )