News Room, Senin ( 11/11 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep meminta masyarakat Kepulauan Masalembu untuk mengawasi APMS (Agen Premium Minyak dan Solar). Sebab, kurangnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke kepulauan akibat menurunnya penebusan oleh APMS sendiri. Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si menjelaskan, kurangnya stok BBM di kepulauan disebabkan menurunnya penebusan BBM oleh APMS, sehingga tidak mencukupi kebutuhan warga kepulauan. Menurunnya, penebusan BBM yang dilakukan APMS itu dipicu oleh kurangnya modal pengelola APMS. “Informasinya, penebusan BBM oleh APMS memang berkurang atau tidak sampai kuota yang telah ditentukan, karena modalnya juga kurang. Kalau sudah persoalan modal, ya bukan tanggungjawab pemerintah. Bahkan, sampai urunan untuk menebus BBM terutama di APMS,”terang Bupati Sumenep, Senin (11/11). Untuk itu, masyarakat harus mengawasi pengelola APMS, termasuk penebusan BBM, supaya pengusahan itu bisa bekerja dengan baik. “Tolonglah, bukan hanya pemerintah terus yang menjadi sorotan, tapi masyarakat juga ikut mengawasi pengelola APMS,”ungkapnya. Selain itu, Pemkab Sumenep juga terkesan menanggapi dingin soal banyaknya nelayan di kepulauan, Kabupaten Sumenep untuk memenuhi kebutuhan BBM yang membeli ke Bali lantaran suplai BBM dari daratan tidak memadai. “Bagi kami nelayan kepulauan yang membeli BBM ke Bali itu hanya persoalan pragmatis saja. Paling nelayan Sapeken saja, karena secara geografis, Kecamatan/kepulauan Sapeken lebih dekat ke Bali dibanding ke daratan,”ujarnya. Meski demikian Bupati mengakui, soal minimnya stok BBM di kepulauan beberapa bulan terakhir ini. Namun, pihaknya tidak mau jika kunci permasalahan berada di pemerintah. Sebab, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti mengeluarkan surat rekomendasi kepada para nelayan dan kelompok masyarakat yang lain. “Jangan menyalahkan Camat terus atau Pemerintah Kabupaten, karena upaya kami sudah dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengeluarkan surat rekomendasi, agar warga bisa menebus BBM untuk kebutuhannya,”tegasnya. Sebelumnya, anggota DPRD Sumenep asal Kepulauan, Moh. Ali mengatakan, pemilik perahu atau kapal asal kepulauan Sapeken membeli BBM ke Bali, Situbondo dan Banyuangi. Para pemilik perahu diberi jatah 15 drum menebus BBM di Bali setiap 10 hari sekali. Setiap satu drum berisi 200 liter. Mereka sengaja membeli BBM diluar wilayah hukum Sumenep lantaran tidak ada pasokan BBM ke kepulaun, akibatnya harga melambung hingga mencapai Rp. 25.000,00 per-liter. Itu pun barangnya sulit didapat. ( Nita, Esha )