Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-05-2015
  • 2595 Kali

Menelusuri Jejak Ponpes Loteng, Ponpes Tertua Di Kota Sumenep

News Room, Jumat ( 22/05 ) Di wilayah Kabupaten Sumenep, khususnya di Kecamatan Kota, Pondok Pesantren (Ponpes) Loteng Kelurahan Karangduak merupakan pesantren tertua.

Pondok pesantren yang berdiri di kampung Pasarsore Kelurahan Karangduak ini pada masa lampau pernah menjadi pusat jujukan para ulama besar Sumenep.

Diceritakan beberapa tokoh kyai besar Sumenep telah menjejakkan kakinya di pesantren ini demi mengenyam ilmu di situ.

Di masa-masa periode awal, disebutkan beberapa nama yang pernah nyantri di Ponpes Loteng, seperti diantaranya Kyai Haji Zainal Arifin Tarate, Kyai Haji Abisyuja Kebunagung, Kiyai Haji Ahmad Bakri Pandian, dan lain-lain.

“Sebutan Loteng pada pesantren ini secara sempit mengacu pada sebutan dhalem (rumah) Pangeran Kornel (Kolonel) Muhammad Nawawi Kusumosinerangingalogo, salah seorang putra Sultan Abdurrahman Pakunataningrat,”kata R. Aj Rabiatul Adawiyah, salah seorang anggota keluarga Ponpes Loteng, pada News Room.

Menurut Jeng Wiwin, panggilan akrabnya, Loteng dalam bahasa Madura bermakna rumah berlantai dua (bertingkat). Memang pada waktu di jaman Pangeran Kornel, beliaulah yang pertama kali mendirikan bangunan rumah bertingkat dalam ukuran yang cukup luas dan besar di Sumenep.

Tujuannya, disamping sebagai tempat kediaman, juga berfungsi sebagai markas pengintai. Kebetulan Pangeran Kornel Nawawi memang menjabat sebagai kepala Angkatan Perang keraton yang bertugas menjaga wilayah utara.

“Setelah masa Pangeran Kornel, sekitar akhir abad 19, Loteng berubah menjadi pusat belajar pengetahuan agama Islam. Loteng beralih fungsi menjadi sebuah pesantren kecil, namun berpengaruh besar. Hal itu tidak bisa lepas dari peran tokoh-tokohnya yang merupakan sosok-sosok alim besar dan kharismatik,”jelasnya.

Pengasuh pertama Ponpes Loteng adalah Sayyid RB. Hasan bin Muharrar, cucu keponakan sekaligus cucu menantu Pangeran Kornel. Tidak seperti pondok pesantren pada umumnya, ada kisah menarik di masa kepengasuhan Raden Bagus Hasan.

Seperti yang diceritakan oleh salah satu pengasuh pondok pesantren Loteng saat ini, Raden Bagus Ali Rahmat, pada waktu itu tidak semua orang bisa mondok di pesantren Loteng dalam waktu yang bersamaan.

Pasalnya, Gus Hasan hanya membatasi santrinya dalam jumlah sepuluh orang. Baru ketika di antara yang sepuluh itu ada yang berhenti, maka calon santri baru bisa masuk, namun tetap bilangannya sepuluh, tidak bisa lebih.

“Dulu, kalau ada yang masuk lebih dari sepuluh biasanya santri yang kesebelas atau lebih itu menjadi gila,”kata Gus Ali.

Sejak masa RB. Hasan, sistem pendidikan di Pesantren Loteng murni salafiah. Bahkan setelah periode beliau, yaitu di masa kedua putranya, Sayyid RB. Abdul Lathif, dan RB. Ahmad Murtadla juga begitu. Loteng baru terbuka bagi pendidikan formal sejak tahun 1983, di masa RB. Abdullah bin Abdul Lathif. Setelah Gus Abdullah wafat di tahun 2001, Pesantren Loteng mulai mengalami kemunduran.

Pesantren lalu diasuh oleh RB. Syakti bin Ahmad Murtadla, namun tidak seberapa lama. Setelah Gus Syakti wafat, saat ini Pesantren Loteng diasuh oleh beberapa orang yang salah satunya RB. Ali Rahmat bin Abbas bin Abdul Lathif.

Jumlah santri Loteng pun saat ini sudah mulai berkurang. Meski begitu aktivitas pendidikan, semisal pengajian kitab-kitab salaf masih terus berjalan. ( Farhan, Esha )