Media Center, Selasa ( 14/03 ) Seni beladiri langkah empat merupakan buah karya Raden Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo. Seni beladiri ini di jaman lampau merupakan seni tarung yang langka. Gerakannya terpusat pada area bujur sangkar imajinatif yang setiap sisinya kurang dari satu meter. Lalu siapa Raden Banjir ini?
“Raden Banjir ialah putra dari Pangeran Ario Prawiroadiningrat, anak sulung Panembahan Mangkuadiningrat, Pamekasan. Ibunya ialah Ratu Afifah, putri sulung Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, Sumenep,”kata RP. M. Mangkuadiningrat, salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep.
Menurut Mangku, Raden Banjir lebih banyak dekat dengan keluarga ibunya. Apalagi setelah ayahnya mangkat lebih dulu. Padahal Pangeran Prawiro, ayahnya itu, sudah dicalonkan sebagai Bupati Pamekasan menggantikan Panembahan Mangkuadiningrat setelah wafatnya. Namun, posisi adipati tetap diberikan kepada Raden Banjir. Bahkan, beliau dilantik saat masih di bawah umur atau belum dewasa.
“Situasi ini menimbulkan ke tidak senangan dari paman-pamannya di Pamekasan, sehingga hubungan Raden Banjir dengan keluarga di Pamekasan kurang harmonis. Hal ini yang mungkin menyebabkan beliau mengundurkan diri sebagai Adipati Pamekasan,”imbuh Mangku.
Setelah mengundurkan diri, Raden Banjir pulang ke Sumenep. Tinggal bersama ibunya di Moncol. Raden Banjir kemudian mengembangkan seni beladiri yang kemudian diberi nama langkah empat itu.
“Jadi, beliau ini dikenal sebagai pendekar besar di masanya. Beliau juga dikenal alim di bidang agama. Beliau diriwayatkan berguru kepada Kiai Abusyamsuddin atau Buju’ Latthong, di Batuampar Barat, Pamekasan. Di samping juga banyak menimba ilmu pada kakeknya, Sultan Abdurrahman,”tutup Mangku.
Raden Banjir wafat di Sumenep. Jenazahnya dimakamkan di Astatinggi, sebelah timur kubah Panembahan Sumolo. Beliau tercatat memiliki 19 putra-putri. Keturunannya banyak berada di Sumenep. ( M Farhan, Esha )