News Room, Jumat ( 25/09 ) Setelah didapat informasi yang dibutuhkan dalam proses ngin-angin atau pencarian informasi awal mengenai seputar status sang gadis, barulah calon pelamar atau pihak laki-laki naik ke tangga selanjutnya yang diistilahkan dengan arabhas pagar.
Peran perantara di sini masih sangat dibutuhkan. Bahkan sangat penting. "Perantara bersama perwakilan keluarga laki-laki silaturrahim ke pihak perempuan. Perwakilannya bisa siapa saja. Bisa paman, bibi, saudara dari laki-laki yang ingin melamar. Namun bisa juga orang tuanya sendiri, entah ayahnya atau ibunya,"kata pemerhati budaya di Sumenep, R.A. Silfanida, pada News Room.
Arabhas pagar juga disimbolkan pada barang yang dibawa pihak laki-laki. Seperti gula, kopi, pisang, dan terkadang juga ditambah dengan beberapa makanan berjenis kue. Ketika sudah ada respon positif atau penerimaan dari pihak perempuan, barulah kemudian direncanakan dan digelar acara pertunangan atau abhakalan.
Abhakalan berasal dari kata bhakal atau bakal, yang maknanya bakal suami atau bakal isteri. Di sini kemudian juga muncul istilah bhakal tolos (bakal jadi atau jodoh) dan bhakal burung (atau bakal tidak jadi atau gagal menuju pelaminan). Karena kata abhakalan dimaknai pertunangan, maka bhakal juga diartikan tunangan.
Prosesi abhakalan ini yang dikenal dengan tradisi nyabak jajan. "Biasanya yang dibawa ketika nyabak jajan ialah makanan atau kue lokal. Seperti leppet, dan kue-kue lain yang jumlahnya harus diawali dengan kata sa. Bisa sasangak (9), sapolo (10), sabelles (11), salekor (21), sagamik (25), saeket (50), saratos (100) bahkan saebu (1000). Terserah orangnya,"kata Jeng Ida, panggilan akrab RA Silfanida.
Awalan "sa" tersebut mengandung makna sah. Jadi bisa diartikan ngessa agi atau mengesahkan. Disamping kue, menurut Jeng Ida juga biasanya membawa ketupat dan buah pisang. "Ditambah makanan lain juga tidak apa-apa,"tambah ibu 4 anak ini, yang juga sudah memiliki 3 orang cucu ini.
Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan tradisi balessan (balasan) dari pihak perempuan ke rumah keluarga laki-laki. Waktunya tergantung kesepakatan. Biasanya seminggu setelah nyabak jajan. Sedangkan yang dibawa ketika balessan umumnya berupa makanan yang terdiri dari menu ayam sepasang, nasi lemak, nasi putih, gulai, sate, dan lain-lain. "Tidak pakai balessan juga gak apa-apa. Bisa diistilahkan bertamu biasa,"jelas Jeng Ida.
Pertunangan tersebut waktunya relatif, tergantung kesepakatan kapan akan disahkan melalui aqad nikah. Namun jika dalam masa tunangan tersebut menjumpai momentum Hari Raya Idul Fitri, maka ada tradisi nyaleni, dan apettrae. Nyaleni adalah menyediakan busana lengkap untuk dipakai hari raya bagi sang gadis. "Apettrae menanggung zakat fitrah sang tunangan perempuan,"tutup Jeng Ida. ( Farhan, Esha )