News Room, Rabu ( 03/02 ) Keraton Sumenep dikenal memiliki tokoh-tokoh legendaris yang menjadi simbol kebesaran masa lalu. Salah satu tokoh penting yang luput dari tinta sejarah dalam literatur kepustakaan masa kini ialah Raden Sutojoyo, salah satu tokoh legendaris keraton yang dipasrahi menjaga pintu gerbang utama keraton di kawasan pesisir utara, dengan berkedudukan di Sotabar.
Nama Raden Sutojoyo kerap disebut hanya di catatan-catatan silsilah di Madura. Khususnya di wilayah Pamekasan dan Sumenep. Hal itu disebabkan kebanyakan pembesar Keraton Sumenep dan ulama-ulama besar di masa kuna, di kedua Kabupaten tersebut merupakan keturunan Raden Sutojoyo.
"Beliau merupakan leluhur, kiai-kiai di Pamekasan, dan sebagian juga di Sumenep. Beberapa pesantren besar di Pamekasan, seperti Bata-bata, tokoh-tokohnya merupakan keturunan beliau. Di Pamekasan yang terkenal ialah cicit Raden Sutojoyo, yaitu Kiai Bayan, salah satu waliyullah besar di Madura,"kata Kiai Barmawi Ma lum, sesepuh pesantren Arongan, Daleman, Ganding, yang merupakan salah satu keturunan Raden Sutojoyo pada Media Center.
Sedangkan di Sumenep, di antara keturunan beliau ialah Bindara Fata pendiri langgar (pesantren) Kodas, Ambunten. Bindara Fata adalah adik kandung Kiai Bayan, merupakan leluhur kiai-kiai di Ambunten, Langgar (pesantren)Toros Kebunagung, dan lain-lain. Sementara di bidang pemerintahan, salah satu putra Raden Sutojoyo yang bernama Raden Entol Anom menjabat sebagai Patih Sumenep, yang bergelar Raden Tumenggung Onggodiwongso atau Ronggodiwongso. Jabatan Patih ini selanjutnya turun pada putra Ronggodiwongso, yaitu Raden Demang Wongsonegoro. Putra Raden Sutojoyo yang lain, yaitu Raden Entol Bagus, menjadi Jaksa di Sumenep. Dan putra sulungnya, Raden Entol Janingrat, bermukim di Waru Pamekasan, dan menurunkan ulama-ulama besar di Waru, Pakes, Banyuanyar, Batabata dan lain-lain.
Kembali pada Raden Sutojoyo, berdasar catatan silsilah yang dimiliki Kiai Barmawi, Raden Sutojoyo disebut sebagai putra Raden Macan Alas, Waru. Raden Macan Alas adalah putra Pangeran Saba Pele, putra Panembahan Sampang. Dalam literatur silsilah lain, yang ditulis keturunan pancer dari Raden Tumenggung Onggodiwongso, yaitu almarhum KRB Muhammad Mahfuzh Wongsoleksono (Wedana Kangayan), Pangeran Saba Pele bernama asli Pangeran Sosrodipuro putra Adipati Sampang. Catatan silsilah ini diperkuat dengan catatan lain yang lebih lengkap yang dimiliki keturunan Panembahan Sampang yang ada di Pamekasan dan Bangkalan. Disana tertulis bahwa Panembahan Sampang bernama lain Kiai Adipati Putramenggolo, putra sulung Kiai Cendana alias Pangeran Purnojiwo, Kwanyar Bangkalan.
Dalam catatan manuskrip kuna Pamekasan yang diterjemah oleh Drs. A. Halim Bahwie, Kiai Cendana disebut bersepupu dengan Kiai Wongso alias Pangeran Macan Wulung, yang diidentifikasi sebagai Tumenggung Yudonegoro, Raja Sumenep. Dari sana bisa dipahami hubungan Raden Sutojoyo dengan Keraton Sumenep dinasti Yudonegoro.
"Raden Sutojoyo dikenal sebagai tokoh sakti dan memiliki banyak karomah dan kharisma besar. Makanya dipasrahi menjaga pintu atau labang utama keraton terdepan. Ketokohannya menurun pada putranya yang kemudian diangkat sebagai wakil raja atau Patih Sumenep, yaitu Raden Ronggodiwongso,"kata Kiai Barmawi.
Menurut Kiai Barmawi, makam Raden Sutojoyo berkumpul dengan ayahnya, Raden Macan Alas, Waru Pamekasan. "Asta Macan Alas di Waru sangat keramat dan ramai diziarahi sampai saat ini,"tutupnya. ( Farhan, Esha )