News Room, Kamis ( 21/05 ) Sosok KH. A. Busyro Karim memang fenomenal. Berakar dari keluarga kiai kampung yang bersusur galur pada salah satu tokoh ulama besar Sumenep di abad ke 17, Kiai Ali, Barangbang; hingga alur kehidupannya yang dinamis, penuh perjuangan, sampai menuju puncak “Singgasana Keraton Sumenep” sangat tidak pernah bosan untuk diulas.
Singkatnya, susah untuk tidak menemukan hal-hal yang tidak menarik dalam setiap sisi perjalanan hidupnya. Akhir-akhir ini salah satu kebiasaan cicit Kiai Wiroyudo (Bhirajudha), Karangduak ini juga tak kalah menarik.
Suami dari Bunda Fitri ini sering tampak terlihat mengunjungi atau ziarah ke makam-makam keramat di Asta Tinggi Sumenep, maupun asta leluhurnya di Barambang, Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget. Hal ini diakui salah seorang terdekatnya, Hambali Rasidi.
Menurut Hambali, di waktu senggang tertentu, Bupati sering dilihatnya melakoni kebiasaannya itu. “Iya, biasanya di waktu malam hari. Yang sering ke Asta Tinggi,”ungkapnya.
Terpisah, RB. Roeska Pandji Adinda, S.Pd, Kepala Asta Tinggi Sumenep mengatakan, sebenarnya kebiasaan Bupati tersebut tidak hanya terjadi di akhir-akhir ini, atau tepatnya tak lama menjelang Pemilukada tahun depan. Namun, kebiasaan ziarah Bupati ke pemakaman Raja-raja Sumenep sudah dilakoninya sejak waktu yang relatif lama.
“Sebenarnya Abuya itu tidak baru-baru ini saja ziarah ke Asta Tinggi. Beliau sejak menjabat sebagai Bupati, memang sudah rutin ziarah ke sini. Cuma ya mungkin, khalayak banyak yang tidak mengetahui. Karena memang waktunya tidak tentu. Dan juga tidak banyak yang mendampingi beliau ketika ziarah,”kata Gus Roeska, panggilan akrabnya.
Menurut Roeska, biasanya waktu ziarah Kiai Busyro di malam hari. Di mana pada waktu itu suasana pemakaman di Asta Tinggi sedang dalam keadaan sepi dari para peziarah. “Beliau memang memanfaatkan momen sepinya para peziarah. Ya, di malam hari itu,”tambahnya.
Ketika ditanya apakah ada maksud tertentu dari Abuya dalam kebiasaannya ziarah tersebut, gus Ruska tidak menampik. Dalam artian, dari komunikasinya dengan Bupati saat ziarah ke Asta Tinggi, Abuya Busyro juga seperti para peziarah lainnya, yakni kebanyakan memang mengharap barokah melalui perantara para auliya Allah yang disemayamkan di Asta Tinggi.
“Jadi beliau ibaratnya mengharap petunjuk juga dalam setiap permasalahan yang dihadapi. Disamping juga istilahnya merefresh pikiran, sehingga mampu mengambil banyak kebijakan nantinya,”tambah putra almarhum RB. Abd Rasyid ini.
Sementara salah seorang keluarga Keraton Sumenep, sekaligus juga terhitung sebagai keturunan Kiai Ali Barambang, R. A. Rabiatul Adawiyah, mengatakan, bahwa masalah ziarah kubur tidak harus ditafsirkan macam-macam.
Perkara niat atau tujuan, pasti akan kembali pada yang bersangkutan sendiri. Menurutnya, ziarah kubur hukumnya sunnah karena ada perintah dari Nabi Muhammad SAW.
Mengenai kebiasaan Kiai Busyro ziarah ke makam-makam keramat, menurut cicit pendiri pesantren Loteng Pasar Sore ini merupakan suatu hal yang baik, dan perlu ditiru. Karena banyak hikmah yang bisa diambil dari mentradisikan ziarah kubur, salah satunya ialah mengingatkan yang bersangkutan pada kepastian tentang datangnya kematian.
“Dalam ziarah kubur yang umum ada aktivitas dzikir. Itu kan hukumnya sunnah. Nah, masalahnya kan profesi seseorang kadang dikait-kaitkan dengan kebiasaan ziarahnya. Padahal sebenarnya tidak ada kaitannya,”tutupnya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )