Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 29-06-2016
  • 456 Kali

Mengintip Tradisi Maleman Bagi Masyarakat Di Sumenep

News Room, Kamis ( 30/06 ) Bulan Ramadhan memiliki banyak pernak-pernik. Salah satunya maleman. Tradisi yang digelar di 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan, yang kini sudah mulai terkikis.

"Biasanya digelar pada malam ganjil. Seperti malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29,"kata Fahrurrazi, warga Desa Pamolokan, pada Media Center.

Kegiatan maleman biasanya banyak diisi dengan dzikir, tadarus dan bershadaqah. Kegiatan itu dilakukan dengan begadang hingga lewat tengah malam. "Bahkan kalau di malam ganjil itu ada yang hingga shubuh,"kata Fahrurrazi.

Terpisah, Lamri, warga Desa Kasengan mengatakan, bahwa tradisi maleman  di tempat asalnya masih tetap Lestari. Terutama saat jelang malam 27 Ramadhan. "Ada tradisi membuat makanan palotan,"kata ayah 3 anak ini. Tradisi maleman kini juga bermetamorfosis, dari masjid ke kuburan.

Dalam pantauan media ini, di beberapa titik makam yang dikeramatkan mulai ramai peziarah di malam hari. "Ya, ini kan masalah keyakinan.

Tradisi maleman pada dasarnya berkaitan dengan Lailatul Qodar. Malam mulia itu kan bisa dicapai tak hanya di masjid,"kata RB. Nurul Hidayat, salah satu peziarah di Asta Tinggi. ( Farhan, Esha )