News Room, Jum’at ( 07/11 ) Pemberlakuan hemat energi yang merembet pada pengurangan pengiriman minyak tanah (mitan) dari Pertamina, membuat persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis mitan di Kabupaten Sumenep, baik daratan maupun kepulauan berkurang. Akibatnya, warga kesulitan untuk memperoleh mitan. Ironisnya lagi, di wilayah kepulauan Masalembu harga mitan melonjak tinggi hingga menembus angka Rp. 7.000,00 per-liternya. Seorang tokoh masyarakat Desa Suka Jeruk Kecamatan Masalembu, Moh. Yusuf mengaku heran dengan tingginya harga mitan. Sebab, harga tersebut sangat mencekik terhadap warga kepulauan Masalembu. Namun, karena mitan merupakan kebutuhan pokok, maka warga tetap membelinya meski dengan terpaksa. “Andai saja harga tinggi tapi dibarengi persediaan yang cukup, mungkin warga tidak begitu menjerit. Ini harganya sudah mahal, mitan juga sulit didapat,â€Âterangnya. Tingginya harga mitan yang mencapai Rp. 7.000,00 per liter itu hanya berlaku di daerah pelosok, sehingga sulit dilalui transportasi. Sebab, untuk di wilayah Kecamatan/Kepulauan Masalembu sendiri, harga mitan per-liternya sebesar Rp. 5.000,00. “Kondisi masyarakat Masalembu saat ini sangat memprihatinkan, selain harga mitan mahal, barangnya sulit didapat. Bahkan, kemungkinan besar hal ini juga terjadi di sejumlah wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep,â€Âujarnya. Karena itu, Yusuf meminta pemerintah segera mengatasi kelangkaan mitan ini, terutama di kepulauan Sumenep itu. Karena mitan menjadi kebutuhan pokok warga untuk memasak. “Kondisi begini harus secepatnya diantisipasi. Karena sekarang ini musim hujan, sehingga kayu bakar juga agak sulit di dapat,â€Âkatanya. Sementara itu Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, H. Ahmad Sadik, S.Sos mengatakan, untuk saat ini memang ada pengurangan jatah mitan dari Pertamina. Namun, masih belum diketahui alasan pengurangan itu. “Kami akan segera melakukan koordinasi dengan Tim Penanggulangan Kelangkaan BBM di Sumenep, supaya persoalan ini secepatnya bisa tertangani,†tegasnya. ( Nita, Esha )