Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 28-01-2016
  • 5142 Kali

Nilai Filosofi Dalam Budaya Topeng Dalang Madura

News Room, Jumat (  29/01 ) Setiap budaya tentu memiliki nilai filosofi yang mengandung pesan tersirat. Mulai dari gerakan, kostum, dan setiap peran yang dimainkan dalam seni topeng dalang juga tak luput dari saratnya makna. Seperti gerak yang keras dan tegas seperti khas Madura dan kadangkala muncul kelembutan yang begitu feminis khas Jawa.

Begitu pula konsep karakter tokoh topeng, setelah menyebar ke berbagai wilayah, para dalang memodifikasi sesuai dengan karakter daerah dimana topeng itu tumbuh dan berkembang, sehingga tidak mengherankan kalau konsep karakter tokoh-tokoh wayang Madura dengan konsep karakter topeng Jawa Tengah agak berbeda.

Salah satu contoh adalah, di lingkungan Astina, Suyudana Sang Raja, ternyata oleh orang Madura dicitrakan sebagai raja yang lemah lembut, dan topengnya diberi warna hijau sahdu. Di Jawa Tengah dan Solo, Suyudana adalah raja yang citranya keras dan cenderung kasar.

Ciri khas yang paling spesifik dan unik dari topeng dalang Sumenep Madura adalah dipakainya ghungseng (giring-giring) dipergelangan kaki penari. Pemakaian ghungseng (giring-giring) tersebut bukan hanya sekedar hiasan, bunyi giring-giring yang selalu terdengar setiap kaki penari bergerak menjadi alat bantu yang ekspresif sekaligus menjadi media komunikasi para penari, karena para penari sepatah pun tak boleh berdialog (dialog dilakukan sang dalang, dan tokoh Semar),"kata R. Adawiyah, salah satu pemerhati budaya di Sumenep, pada Media Center.

Disamping itu, menurut Adawiyah, ghungseng dipergunakan sebagai kode perubahan gerakan dalam cerita, misalnya bunyi sreng (panjang) berarti aserek, dan bunyi kroncang-kroncang berarti para pemain sedang berjalan. Ghungseng biasanya dikenakan oleh para pemain yang berperan sebagai tokoh antagonis.

"Kalau diperhatikan, topeng dalang Madura yang dikenakan para pemain terkesan cukup sederhana, bersahaya dan agak kaku ukirannya, inilah salah satu hal yang membedakan dengan topeng Yogjakarta, Solo, Bali ataupun daerah Jawa lainnya. Barangkali karakteristik topeng Madura, diidentikkan dengan pembawaan dan karakter orang Madura yang terkenal keras, kaku tetapi polos dan jujur,"ambahnya.

Adapun bentuk topeng yang dikembangkan di Sumenep Madura, menurut Adawiyah, berbeda dengan topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya. Kecuali Semar, hampir semua topeng itu diukir pada bagian atas kepala dengan berbagai ragam hias. Ragam hias yang paling populer ialah hiasan bunga melati.

"Sedangkan untuk tokoh-tokoh penguasa zalim, digunakan ragam hias badge, yaitu lambang yang dipakai para penguasa kolonial Belanda,"imbuhnya.

Seperti diketahui, topeng Madura ada 2 jenis, satu berukuran seluas telapak tangan, satu lebih besar. Bentuk topeng ini tidak sepenuhnya bisa menutup wajah penari, terutama dagu, maka gerak dagu dalam setiap pementasan tidak dapat disembunyikan, dan ini memberikan nilai estetik tersendiri.

Penggambaran karakter pada topeng Dalang selain nampak pada bentuk muka, juga tampak pada pemilihan warna. Untuk tokoh yang berjiwa bersih dan suka berterus terang, digunakan warna putih.

Sedangkan warna merah, digunakan untuk tokoh-tokoh tenang dan penuh kasih sayang (tokoh Yudistira), hitam untuk tokoh yang arif bijaksana, bersih dari nafsu duniawi (tokoh wayang Krisna). Untuk penggambaran tokoh anggun dan berwibawa, digunakan warna kuning emas (tokoh wayang Subadra).

Sementara penggambaran tokoh yang pemarah, licik dan sombong memakai warna kuning. ( Farhan, Esha )