Media Center, Kamis ( 28/12 ) Membacakan cerita merupakan salah satu tradisi tempo doeloe yang kini hampir tergerus roda jaman now. Di sana tak hanya ada tokoh-tokoh dalam kisah atau cerita, baik yang berasal dari riwayat lisan atau tertulis. Yang lebih penting lagi di situ ada sang pembawa cerita. Biasanya peran ini dimainkan oleh para orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, atau senior pada juniornya. Namun seiring dengan perubahan masa, para pembawa cerita itu sudah mulai menyusut jumlahnya. Kalau tak mau dikata mulai menghilang.
“Padahal bagi sebagian orang mendengar kisah lebih disukai ketimbang membaca kisah dalam bentuk tulisan,”kata Nuzulul Syifa’illah Alfarisi, salah satu story teller cilik di Sumenep, pada Media Center.
Dara cilik berusia 11 tahun ini memang kerap tampil membawakan story telling. Keahlian yang diasahnya sejak beberapa tahun terakhir. Sekaligus membawanya ke beberapa event lomba membacakan cerita di Kabupaten paling timur nusa Madura ini.
Dari beberapa penampilan putri pasangan Imam Alfarisi dan Nuzulul Quraini ini, aksinya tak hanya memukau, namun total. Bahkan dalam sebuah penampilan di sebuah lembaga pendidikan di Desa Kebonagung, penampilan Syifa, panggilan akrabnya, membuat penonton sampai menangis.
“Saya bacakan kisah tentang Ukasyah, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, yang terkenal kisahnya dan sebuah doa yang dinamai dengan namanya,”kata Syifa.
Ya, Ukasyah bin Mihshan. Seorang penunggang kuda terbaik, yang bertempur hingga pedangnya patah. Rasulullah lalu memberinya sebatang kayu sebagai ganti pedangnya. Dalam sebuah riwayat kayu itu menjadi pedang tajam yang berjuluk Al-'aun, yang berarti pertolongan. Pedang yang dia gunakan dalam berbagai pertempuran hingga ajal menjemputnya saat memerangi Musailamah Sang Pendusta.
“Ukasyah inilah yang didoakan Baginda Rasulullah agar masuk surga tanpa hisab, dan bahkan berhasil menciumi tubuh Rasul dengan caranya yang cerdik,”kisah Syifa.
Kembali pada story telling, banyak prestasi yang diraih siswi kelas VI SDN Pajagalan 1 ini. Seperti Juara 2 Lomba Bercerita Tingkat TK se Kabupaten Sumenep (Dinas Pendidikan), Sumenep 25 April 2011; Juara 1 Lomba Bercerita Tingkat TK se Kecamatan Kota Sumenep (IGTK-PGRI), Sumenep 20 Pebruari 2012; dan Juara 1 Lomba Story Telling Tingkat SD/MI se Kecamatan Kota Sumenep (SDI Nurul Bayan Kebunagung), Sumenep 25 Nopember 2017.
Tak hanya story telling, Syifa juga banyak menyabet prestasi di bidang puisi. Untuk bidang itu, sudah belasan event ia ikuti dan sabet penghargaan. Tak hanya membaca puisi, Syifa juga bahkan mencipta puisi. “Sudah belasan puisi. Saya ingin buat buku ontologi,”katanya, semangat.
Puisi-puisi Syifa tidak sedikit yang berisi tentang kota tercintanya, sekaligus juga tentang kisah kepahlawanan. Ia mengaku banyak mendapat ide menulis itu dari membaca dan mengikuti info terkini. “Jadi harus suka baca agar jadi bisa menulis,”pesan gadis cilik yang bercita-cita jadi arsitek ini. ( M Farhan M, Esha )