Sumenep-Kominfo News Room : Tiga pakar budaya dari disiplin yang berbeda angkat bicara seputar penyelenggaraan Kongres Budaya Madura yang digagas The NSP Institute (Ngadek Sodek Parjuge), bulan Maret 2007 mendatang. Ketiganya sangat mendukung digelarnya Kongres tersebut. Dr. A. Latif Wiyata, seorang Antropolog nasional asal Sumenep mengatakan, derasnya arus globalisasi membuat generasi muda Madura tidak kenal siapa dirinya dan tidak mengakui dirinya sebagai orang Madura. Jadi, Madura bukanlah sebagai budaya tetapi sebagai lokalitas atau dari dimensi geografis saja. Jika ditanya, mereka hanya menjawab bahwa mereka dari pulau Madura, bukan orang yang berbudaya Madura. Sehingga makna Madura tereduksi maknanya hanya sekedar pada aspek fisik, bukan kepada sisi kultural lagi. Latif berharap agar penyelenggaraan Kongres Budaya Madura nantinya tidak sekedar berbicara tentang lokalitas, tetapi juga konsep tentang Madura yang utuh sebagai suatu kultur yang tidak terikat oleh suatu batasan geografis. Dimana saja orang Madura berada, selama dia masih bersikap dan berprilaku berdasarkan nilai-nilai Madura, maka dia sah sebagai orang Madura. Jamal D. Rahman, pimpinan redaksi majalah seni dan budaya Horizon Jakarta yang juga kelahiran Kecamatan Lenteng ini berpendapat, bahwa Kongres ini akan sangat penting, karena sejauh ini budaya Madura belum pernah dirumuskan secara komprehensif. Jika kongres ini nantinya membahas apa dan bagaimana budaya Madura dari berbagai aspek maka akan memberikan sumbangan yang sangat penting bagi Madura, bagi kebudayaan dan peradaban Madura. Ini juga akan membangun citra Madura di luar Madura. Karena secara umum selama ini citra Madura di luar cenderung negatif. Melalui kongres ini rumusan-rumusan tentang budaya Madura dapat dibangun suatu citra yang positif. Budayawan kondang asal Batang-batang, H.D. Zawawi Imron saat ditemui di kediamannya mengemukakan, bahwa walaupun kita tinggal di pulau Madura, kadangkala masih asing dengan budaya Madura. Dengan adanya kongres ini diharapkan setiap orang Madura semakin bangga dengan budayanya sendiri. Semakin kenal Madura dan bukan seperti orang asing di negeri sendiri. Kongres ini sangat penting artinya karena di dalamnya nanti akan disajikan wawasan ilmiah dalam bentuk makalah-makalah hasil penelitian para pakar. Jika suatu bahasan sudah didasari oleh sesuatu yang ilmiah maka hal itu bukanlah issue dan bisa dipertanggungjawabkan. Dalam kongres itu nantinya tentu akan ada sanggahan, tanggapan, atau perbedaan pendapat. Dan jika terdapat perbedaan-perbedaan, maka tentu harus sama-sama akurat, karena mungkin cara mengkajinya yang berbeda. Sehingga mungkin akan muncul berbagai kontroversi. Tetapi itu lebih baik daripada tidak membicarakan Madura sama sekali. ( Adjie, Esha)