Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 27-01-2009
  • 372 Kali

Pelajar Sumenep Nikmati Gernama Matahari Cincin

News Room, Selasa (27/01) Kesempatan langka untuk menyaksikan Gerhana Matahari Cincin, yang digelar oleh Taman Sains Gai’ Bintang (TGSB) di Depan Labang Mesem Keraton Sumenep, Selasa (26/01) sore, tidak disia-siakan oleh sejumlah pelajar dan masyarakat. Melalui Kacamata Solar Viewer, dan teleskop Altazimuth Mounth yang telah dilapisi filter, para pengunjung yang hadir dalam acara tersebut sangat antusias menikmati fenomena alam yang sangat jarang terjadi tersebut.. Ketua TSGB, Januar Herwanto, kepada News Room menjelaskan, kegiatan ini digelar tidak hanya sekedar menyaksikan gerhana matahari cincin. Namun, juga merupakan wisata iptek. Sehingga masyarakat khususnya pelajar mendapatkan pengetahuan baru di bidang astronomi dan akan lebih mencintai dunia astronomi. “Apalagi, Semenep telah memiliki duta astronomi, yaitu Anas Maulidi Utama, yang berhasil menjuarai Olimpiade Astronomi Junior internasional,” tegas mantan peneliti LIPI tersebut. Disinggung mengenai gerhana matahari, Januar menjelaskan gerhana matahari berlangsung tidak lebih dari 7 menit 40 detik. Ketika gerhana berlangsung, orang dilarang melihat ke arah matahari dengan mata telanjang. Sebab, hal itu dapat merusak mata bahkan menyebabkan kebutaan. Fotosfer Matahari (bagian cincin terang dari matahari) dapat merusak retina mata, karena radiasi tinggi yang tak terlihat karena pancaran fotosfer. Karena itu, TSGB menyediakan Kacamata Solar Viewer, dan teleskop Altazimuth Mounth yang telah dilapisi filter, untuk melindungi mata ketika melihat gerhana matahari. Selanjutnya Januar mengatakan, gerhana hanya berlangsung secara fenomenal di Lampung dan mengarah ke timur laut. Dari peta, seseorang dapat menyaksikan lintasan bayangan umbra (bayangan inti) gerhana matahari cincin ini selebar 280 km. Kebetulan, gerhana menyentuh Indonesia khususnya dari Selat Sunda hingga ke Kalimantan Timur. Di luar wilayah tersebut, Januar menjelaskan, gerhana tetap bisa dilihat. Namun, matahari menampakkan wujud gerhana sebagian, seperti di seluruh Pulau Sumatera (selain Lampung dan Sumatera Selatan). Dalam peta, terdapat garis biru muda sejajar umbra bernilai 0,6 dan 0,8. Di wilayah-wilayah tersebut, orang akan menyaksikan matahari tertutupi bundaran bulan antara 60 hingga 80 persen. "Nilai persisnya bergantung posisi tiap titik di daerah tersebut," terangnya. Oleh karena itu, ini merupakan kesempatan langka. Sebab, untuk menyaksikan fenomena ini lagi kembali kitah harus menunggu hingga 2016 atau 7 tahun lagi, Pungkas pemerhati pendidikan tersebut. (Gun, Adjie)