Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 28-05-2015
  • 364 Kali

Pemerhati : Perlu Tingkatkan Kemasan Budaya Madura

News Room, Jumat ( 29/05 ) Bagi sebagian orang, budaya kita, budaya ketimuran memang terkesan ribet alias, kurang praktis. Jika kaca perbandingan yang dipakai adalah budaya ke barat-baratan, budaya kita memang lebih kental dengan istilah "basa-basi".

Kita memang lebih suka berputar-putar terlebih dulu saat menuju tujuan. Padahal dalam skala normal, "tujuan" itu sebenarnya tak banyak amat memakan waktu dan biaya murah meriah.

“Namun dibanding budaya barat, budaya kita memang terkesan lebih halus. Lepas dari kesan kesombongan, lebih cenderung berhati-hati, dan lebih banyak pertimbangan. Contoh kecil, coba lihat saat para akademisi kita memberikan pengantar untuk karya tertulisnya, pasti akan ada kalimat yang menyatakan bahwa karyanya itu masih jauh dari kesempurnaan. Padahal logikanya, untuk apa karyanya disajikan jika masih "cacat"?,”kata salah seorang pemerhati budaya di Sumenep, R. Nurul Hidayat S.Pd, pada News Room.

Makanya, menurut Nurul, untuk calon pelajar kita yang mau bertolak ke Negara-negara Eropa, seperti negeri Paman Sam, jangan coba bersopan santun dengan kalimat baku kita, jika tak ingin tugas akhirnya dilempar oleh sang dosen, karena dianggap belum selesai. “Meski sebenarnya memang harus saling memahami dan menghormati budaya bangsa lain,”tambahnya.

Terpisah, Budayawan Sumenep, Edhi Setiawan, SH mengatakan bahwa budaya Madura sangat unik, contohnya Tellasan Topak. Ia sebut sebagai metamorfosa budaya yang begitu luar biasa.

“Saya melihatnya sebagai kegiatan yang merupakan campuran ritual, budaya, yang sangat luar biasa. Saya merasa ini suatu tempat luapan untuk melepaskan kepenatan, kegembiraan di tengah pergulatan hidup yang cukup keras. Tellasan Topak merupakan event yang bagus. Di saat itu terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar. Seperti di tempat wisata Lombang misalnya, atau di situs budaya berupa tempat-tempat ziarah, berapa pendapatan yang bisa diraih. Sangat besar. Ini sangat perlu dijaga kelestariannya,”katanya beberapa waktu lalu di kediamannya.

Namun, Edhi tidak menampik bahwa masih banyak budaya Madura, khususnya Sumenep yang sudah terabaikan. Terabaikan di sini menurut Edhi, tidak hanya bermakna dihilangkan, tidak dikenalkan, atau ditinggalkan, namun juga pementasannya yang terkesan kurang bonafide.

“Hampir banyak kegiatan budaya yang dilupakan, salah satu misal Lomba Musik Tong-tong. Ini sungguh memprihatinkan. Kita punya budaya yang luar biasa, namun tak dikemas secara bonafide. Padahal jika dikemas dengan baik, seperti halnya Tellasan Topak, ini akan menjadi kegiatan rutin tahunan yang banyak penggemarnya. Kita harapkan setiap tahun terus dilangsungkan dan ditingkatkan pengemasannya,”tambahnya. ( Farhan, Esha )