News Room, Rabu ( 15/07 ) Transportasi laut khususnya untuk melayani masyarakat kepulauan memang penting untuk menjadi pertimbangan dalam penambahan volume trayek kapal. Sebab, selama ini, dengan adanya 2 armada kapal penyeberangan DBS I dan II masih relatif kurang memadai. Terbukti, setiap kali pemberangkatan kapal selalu penuh, sehingga dikhawatirkan akan melebihi kapasitas angkuan yang ditentukan. Hal tersebut diakui Syahbandar Kalianget, Abd. Rachem kektika ditemui News Room di kantornya tadi pagi, Rabu (15/07). Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, transportasi kapal ke kepulauan hampir tidak pernah sepi, bahkan terkdang terpaksa diberangkatkan lebih awal dari jadwal pemberangkatan yang ditentukan, sehingga seringkali masyarakat komplain karena dianggap keberangkatan kapal tidak tepat waktu. "Kami serba dilematis, bila diberangkatkan awal, disalahkan, sementara bila masih menunggu waktu pemberangkatan, penumpang sudah penuh, sehingga jika masih menunggu waktunya, maka penumpang akan semakin berjubel,"ujar Abd. Rachem. Sementara masyarakat kepulauan sendiri selama ini memang masih menunggu adanya penambahan kapal yang lebih representatif, sebab selama ini masih ada beberapa kepulauan yang tidak terlayani dengan kapal yang memadai, seperti ke pulau Sapeken, Raas dan beberapa pulau lain di kabupaten Sumenep. Seperti halnya yang diungkapkan salah seorang anggota DPRD Sumenep asal kepulauan Sapeken, Nur Asyur. Menurutnya, keberadaan kapal yang layak untuk penyeberangan kepulauan memang menjadi impian masyarakat kepulauan. Karena itu ketika ada kapal yang bisa melayani ketika masyarakat membutuhkan hingga melebihi kapasitas, karena beberapa kapal kecil yang selama ini juga masih melayani penumpang antar pulau, ketika kondisi cuaca memburuk, jelas tidak berani. "Terbukti hari minggu kemarin, masyarakat beramai-ramai memadati dermaga Sapeken, yang menyambut gembira datangnya kapal Perintis baru KM Kumala, sebagai pengganti kapal yang beberapa bulan lalu tabrakan di Perairan Tanjung Perak Surabaya,"ujar Nur Asyur. Karena itu, Nur Asyur berharap kegembiraan masyarakat itu tidak hanya terjadi sekali. Namun masyarakat berharap Kapal Kumala bukanlah sekedar mengisi kekosongan, karena KM. Padi belum bisa beroperasi, tetapi bisa berlanjut, untuk seterusnya KM. Palapa bisa melayani transportasi masyarakat kepulauan, sehingga antara daratan dan kepulauan di Sumenep tidak berkesan jauh tertinggal dalam urusan transportasi. ( Ren, Esha )