Sumenep-Kominfo Room : Pembangunan di Propinsi Jawa Timur, diutamakan pada bidang pendidikan dan kesehatan. Hal ini karena masalah aksesibilitas dan kualitas pendidikan dan kesehatan masih rendah. Sekretaris Daerah Propinsi Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum saat ditemuai usai Rapat Kerja Pemerintahan dan Pembangunan di Pendopo Kabupaten Malang, Rabu kemarin (26/07) mengatakan, yang menjadi prioritas di bidang pendidikan adalah pembangunan dan rehabilitasi gedung TK, SD/MI, dan SMP/MTs, pemberantasan buta huruf, penuntasan wajib belajar 9 tahun, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan pembinaan sekolah menengah kejuruan. Sedangkan di bidang kesehatan, meningkatkan Puskesmas menjadi Puskesmas rawat inap, pembangunan gedung pusat diagnostik terpadu, peningkatan ketersediaan obat dan alat kesehatan untuk keluarga miskin (gakin), peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, dan pengembangan institusi Posyanduâ€, ungkapnya. Menurutnya, saat ini Jawa Timur mengalami beberapa permasalahan pokok. Di antaranya masalah pengamalan nilai-nilai agama, kemiskinan dan pengangguran, percepatan pembangunan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, masalah sumber daya alam, lingkungan hidup, dan penataan ruang, serta terbatasnya sumber pembiayaan pembangunan. “Semua itu kami prioritaskan penyelesaiannya,†ujarnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 13 juta gakin dan 1,9 juta pengangguran. Untuk menanggulangi kemiskinan itu, Pemprop menjalankan beberapa program. Di antaranya PAM-DKB, Gerdu Taskin, pengembangan kluster ekonomi pedesaan, dan kegiatan padat karya. “Semua itu bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas dan meningkatkan kualitas kehidupan (pemenuhan hal dasar masyarakat),†tuturnya. Sementara nara sumber dari Universitas Brawijaya Malang, Prof. Dr. Harry Susanto, SE, SU menjelaskan, beberapa faktor penentu prospek perekonomian di antaranya, kecenderungan kebangkitan ekonomi dan keberhasilan restrukturisasi ekonomi dari negara-negara berkekuatan ekonomi besar, perkembangan tingkat bunga inflasi dan nilai tukar, serta harga BBM di pasar yang cenderung naik. “Itu terlihat dari kesulitan menekan pemanasan ekonomi domestik di China dan USA, serta sejumlah negara di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Selain itu juga adanya kecenderungan Dollar AS mengalami tekanan dibanding mata uang kuat lainnya. Seperti mata uang Euroâ€, katanya. ( JNR, Esha )