Sumenep-Kominfo News Room : Kebrutalan militer Israel terhadap Palestina dan Libanon memicu Indonesia bersiap diri mengirimkan satu batalyon TNI ke Libanon sebagai bagian dari pasukan perdamaian dibawah payung Dewan Keamanan PBB. Namun sikap dan kebijakan tersebut seyogyanya tidak dilakukan secara gegabah. Harus dipertimbangkan, apakah pengiriman itu efektif atau tidak. “Ditengah kondisi bangsa seperti ini, pemerintah seharusnya berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Jangan terburu-buru. Justeru malah akan tidak efektifâ€, pendapat AS Hikam pada detikcom, Rabu pagi (08/08). Menurut AS Hikam, seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara dunia ketiga yang tergabung dalam OKI dan Gerakan Non-Blok untuk mendesak PBB dan Amerika Serikat turun tangan. “Kuncinya bukan di Israel, tapi justeru di Amerika Serikat. Kalau Amerika Serikat dapat dipegang, maka Israel pun bisa dihentikan. AS selamanya tidak bersikap ignoreâ€, kata mantan peneliti LIPI ini. Oleh sebab itu, OKI dan Gerakan Non-Blok harus menjadi kekuatan untuk mendesak AS dan PBB. Inilah saatnya dunia ketiga menunjukkan diplomatiknya. Pengiriman TNI ke Libanon, lanjut AS Hikam, sangat tidak efektif. Sebab, hingga saat ini PBB saja yang memiliki kewenangan belum memberikan kepastian terhadap Israel dan Libanon. Jadi, akan sia-sia penggalangan pasukan yang dilakukan. “Anggaran sebesar Rp. 300 Milyar tentu akan mempengaruhi budget TNI. Karena itu, sebaiknya Presiden SBY mempertimbangkan kembali kebijakan pengiriman pasukan ke Libanonâ€, tandasnya. ( DC, Esha )