Sumenep-Kominfo News Room : Adanya perbedaan tentang jatuhnya 1 Syawal 1427 Hijriyah antara Ormas Islam dengan pemerintah, hal itu harus disikapi secara dewasa dan saling menghargai. “Sikap pemerintah mengenai kepastian jatuhnya 1 Syawal 1427 Hijriyah masih mengakomodasikan antara hisab (perhitungan) dengan rukyatul hilal (melihat bulan dengan mata) yang dilakukan pada Minggu (22/10) mendatang. Jika pada saat itu terlihat adanya bulan, maka dipastikan 1 Syawal 1427 Hijriyah akan dirayakan secara bersamaan pada tanggal 23 Oktober,†ujar Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Timur, Drs. H. Roziqi, MA ditemui di Kantornya, Jumat (20/10) kemarin. Masing-masing Ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah memang mempunyai perhitungan sendiri-sendiri, karena sejak awal kalender yang beredar ada dua versi. Namun, semua itu tergantung dari pengumuman pemerintah dan pemerintah akan mengumumkan kapan jatuhnya 1 Syawal 1427 Hijriyah. “Setelah adanya perhitungan dari Badan Rukyat dan Hisab Nasional yang terdiri dari para ahli hisab dan pakar dari berbagai Ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, maka pemerintah baru memutuskan kapan jatuhnya 1 Syawal 1427 Hijriyah,†katanya. H. Roziqi menambahkan, Kantor Pusat Departemen Agama telah mengkoordinasikan kepada seluruh jajarannya di seluruh Propinsi di Indonesia, jika ada salah satu Propinsi melihat adanya bulan, maka informasi itu akan langsung disampaikan ke pusat guna dilakukan Sidang Isbat untuk memutuskan jatuhnya 1 Syawal 1427 H. â€Saya berharap mudah-mudahan ada keputusan yang bisa menenteramkan seluruh umat Islam, sehingga tidak menimbulkan kekacauan,†ujarnya. ( JNR, Esha )